Rabu, 13 November 2013

perekonomian indonesia


A.   PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP EKOMONI PEMBANGUNAN
Ekonomi Pembangunan (Develipment Economic) adalah merupakan cabang ilmu ekonomi yang khusus membahas masalah-masalah pembangunan di Negara- Negara berkembang. Atau Ilmu ekonomi yang mempelajari transformasi struktur dan kelembagaan dari seluruh masyarakat yang pada hakekatnya akan menghasilkan kemajuan ekonomi secara efesien bagi sebagaian besar penduduk. Tujuan dari analisanya ialah usaha untuk menelaah faktor-faktor yang menimbulkan hambatan-hambatan pembangunan. Sehingga pembangunan terlambat di Negara-negara berkembang, selanjutnya mencari cara-cara yang berwujud kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk mengatasi masalah-masalah sehingga dapat mempercepat laju pembangunan ekonomi.
Perlu dibedakan pengertian Pembangunan Ekonomi dengan Ekonomi Pembangunan. Pembangunan Ekonomi adalah sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh suatu Negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf kehidupan masyarakat. Selain itu pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang.
Pembangunan ekonomi(economic of development) usaha-usaha untuk meningkatkan tarap hidup suatu bangsa yang sering kali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riel per kapita. Pembangunan ekonomi adalah suatu proses peralihan(transisi) dari tingkat ekonomi tertentu yang bercorak sederhana menuju ke tingkat ekonomi yang lebih maju. Dalam hal ini Pembangunan merupakan proses tranformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh peruubahan struktural yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

Pembangunan ekonomi mempunyai tiga sifat/unsur penting. :
1.      Suatu proses(perubahan yang terjadi terus menerus).
2.      Usaha untuk menaikkan tingkat pendapatan perkapita.
3.      Kenaikan pendapatan perkapita terus berlangsung dalam jangka panjang.

Selain pengertian umum tersebut diatas ada beberapa pendapat para ahli antara lain :
a.       Menurut Baldwin & Meier, Pembangunan ekonomi(Economic Development) adalah suatu proses, dengan proses dimana pendapatan nasional riil suatu perekonomian bertambah selama suatu priode waktu panjang. Jika tingkat pembangunan itu lebih besar dari pada tingkat pertambahan penduduk, aka pendapatan riil perkapit akan bertambah. Proses adalah bekerjanya kekuatan- kekuatan tertentu ini bekerja selama priode yang panjang dan mewujudkan perubahan dalam variable-variabel.
b.      Sedangkan menurut Sumitro Djoyohadikusumo, Pembangunan ekonomi adalah Usaha memperbesar pendapatan perkapita dan menaikkan produktivitas perkapita dengan jalan menambah peralatan modal dan menambah skill.
Sedangkan tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk menaikkan pendapatan nasional riel juga untuk meningkatkan produkstivitas. Pembangunan mempunyai arti yang sangat luas dimana tujuannya adalah meningkatkan produksi. Pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup perubahan struktur, sikap hidup dan kelembagaan. Pembangunan ekonomi juga merupakan pengurangan ketidak merataan distribusi pendapatan dan pemberantasan kemiskinan. Jadi dengan adanya pembangunan ekonomi akan terjadi pertumbuhan ekonomi yaitu proses peningkatan produksii barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Pertumbuhan menyangkut perkembangan berdimensi tunggal diukur dengan meningkatnya produksi dan pendapatan. Setiap pembangunan ekonomi diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan peningkatan pendapatan nasional atau pendapatan per kapita masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat, pertumbuhan ini ditandai adanya peningkatan pendapatan (PDB, PDRB, Pendapatan Perkapita) dari waktu kewaktu Perkembangan ekonomi berkaitan dengan paham evolusi, bukan berhubungan langsung dengan pertumbuhan ataupun pembangunan.
Perbedaan Pembangunan ekonomi (economic Development) dengan pertumbuhan ekonomi(Economic Growth), ahli-ahli ekonomi membedakan kedua pengertian tersebut mengartikan istilah pembangunan ekonomi sbb.:
1.      Peningkatan dalam pendapatan perkapita masyarakat yaitu tingkat pertumbuhan GDP pada suatu tahun tertentu adalah melebihi tingkat pendapatan penduduk.
2.      Perkembangan GDP yang berlaku dalam suatu masyarakat dibarengi oleh perubahan dan modernisasi dalam struktur ekonominya yang pada umumnya masih bercorak tradisional.
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai “ Kenaikan dalam GDP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pada tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan dalam struktur ekonomi berlaku atau tidak. “
         Beberapa alasan mengapa muncul pembanguanan ekonomi, adanya kenyataan bahwa suatu Negara pendapatan nasionalnya hanya mampu mengimbangi pertambahan penduduk. Dari sisi lain ada Negara yang mempunyai sisa pendapatan  untuk investasi guna menaikkan standar kehidupan masyarakatnya. Adanya perbedaan tingkat hidup antara Negara yang satu dengan Negara lain, perbedaan ini semakin besar. Adanya kehendak dari Negara untuk berkembang yang selama ini disadari tingkat kehidupan yang rendah. Mereka menghendaki tingkat hidup yang lebih tinggi melalui peningkatan kemakmuran ekonomi atau kesejahteraan.

B.     INDIKATOR DALAM PEMBANGUNAN EKOMONI
                        I.     Kriteria/Syarat Umum untuk Pembangunan
Menurut Meier dan  Baldwin, agar pembangunan itu dapat berjalan diperlukan syarat-syarat seperti berikut :
1.      Kekuatan yang berasal dari dalam : Proses pembangunan harus dilaksanakan atas dasar yang terdapat di dalam masyarakat negara yang sedang membangun, adanya kehendak untuk menaikkan taraf hidup harus timbul dari masyarakat itu sendiri. Bantuan dari luar hanya membantu berlangsungnya pembangunan, kekuatan dari luar tidak dapat berfungsi sebagai pengganti bagi kekuatan-kekuatan dari dalam. Beberapa proyek dapat dimulai dengan bantuan dari luar negeri, tetapi ini tidak dapat menjamin berlangsungnya pembangunan. Jadi kekuatan dari luar hanya merupakan pelengkap saja. Bantuan luar negeri yang berupa investasi asing akan cendrung menanam modalnya kearah sumber-sumber alam untuk pasaran internasional sehingga belum tentu menguntungkan perkembangan rakyat setempat, oleh karenanya inisiatif dan pengaturan institusi masyarakat untuk membangun harus tumbuh dari dalam masyarakat itu sendiri.
2.      Menyempurnakan PasarKetidak sempurnaan pasar harus dihilangkan, karena keadaan itu akan mengakibatkan :
a.       Membatasi mobilitas faktor-faktor produksi
b.      Merintangi perluasan dan pengembangan pasar
c.       Membatasi pengaruh suatu sektor yang berkembang terhadap sektor-sektor yang lain.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka harus diadakan penyempurnaan pasar yaitu dengan cara mengubah bentuk-bentuk organisasi sosial dan ekonomi, Praktek-praktek monopolistis harus dikurangi dan pasar capital harus diperluas.
3.      Akumulasi KapitalMenurut teori-teori pembangunan Klasik sampai dengan post Keynesian, dikatakan bahwa dalam proses pembangunan akumulasi capital riil mempunyai peranan yang penting. Akumulasi capital mengandung tiga kegiatan penting yang saling bergantung satu sama lain yaitu :
a.       Menambah volume tabungan riil
b.      Mekanisme pembiayaan dan kredit
c.       Tindakan, investasi itu sendiri
Akumulasi capital tidak dapat terjadi hanya membentuk institusi-institusi keuangan dan perluasan moneter, tetapi juga diperkirakan adanya struktur pasar yang kuat agar dapat dipengaruhi mobilitas, alokasi capital dapat menyalurkan tabungan ke investasi yang lebih produktif. Tanpa tabungan riil, perluasan moneter akan berakibat adanya inflasi.
Metode untuk mengukur kebutuhan capital bagi pembangunan Negara-negara sedang berkembang adalah sebagai berikut :
a.       diadakan perkiraan tingkat pertambahan penduduk
b.      ditentukan target tingkat pertambahan pendapatan tiil per kapita
c.       angka-angka marginal capital output ratio(ICOR) antara investasi dan output.
Dengan perkataan lain bahwa apabila pendapatan per kapita akan ditingkatkan maka akumulasi capital harus diperbesar pula. Maka investasi harus ditingkatkan.
Untuk meningkatkan investasi ada bermacam-macam cara, antara lain:
a.       Dengan menekan atau membatasi konsumsi, sehingga tabungan dapat bertambah. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan menaikkan pajak.
b.      Pemerintah menjual obligasi-obligasi Negara
c.       Barang-barang import untuk konsumsi dibatasi, begitu pula bila mungkin barang-barang import yang berupa alat-alat produksi
d.      Dengan cara inflasi
e.       Memindahkan disquised unemployment dari sektor pertanian ke sektor industri-industri jasa
f.       Mengadakan pinjaman luar negeri
g.      Memperluas sektor perdagangan luar negeri dengan menaikkan terms of trade.
4.      Kriteria Investasi.
Kriteria umum investasi adalah mengenai produktivitas untuk pembangunan lebih lanjut. Yang dimaksud adalah social marginal productivity yang tinggi. Ada 3(tiga) penuntun praktis untuk kriteria productivitas social marginal :
a.       Investasi harus dialokasikan sedemikian rupa sehingga memaksimumkan perbandingan antara output dan capital atau ratio produksi-modal.
b.      Proyek-proyek yang dipilih akan memaksimumkan perbandingan tenaga kerja terhadap investasi.
c.       Investasi hendaknya mengurangi tekanan-tekanan terhadap neraca pembayaran, investasi harus dialokasikan dengan cara yang akan memaksimumkan perbandingan barang-barang eksport terhadap investasi.
Pengguna prinsip-prinsip tersebut di atas dalam keadaan khusus sukar untuk dipenuhi, Ini disebabkan karena pembangunan adalah merupakan suatu proses yang dinamis yang mengandung perubahan dalam kwantitas dan kwalitas penduduk, cita rasa, pengetahuan teknologi dan factor-faktor social serta institusional.
Beberapa pedoman yang bersifat umum dapat digunakan menentukan arah investasi :
1)      Di lapangan manakah investasi itu yang paling produktif?
2)      Di manakah pasar potensiil di Negara miskin ?
3)      Investasi harus diarahkan pada growing points dalam perekonomian.
Pengarahan investasi pada growing points (pertumbuhan nilai) harus dilengkapi dengan dua pertimbangan. :
1)      investasi harus dialokasikan menurut kriteria neraca pembayaran dan juga kriteria produktivitas.
2)      investasi harus diarahkan kepada pembangunan yang seimbang (balanced growth).
Perhatian harus diarahkan kepada penciptaan external economies.
Kriteria investasi berhubungan dengan pemilihan teknik-teknik produksi :
·         investasi yang bersifat capital intensif
·         investasi yang bersifat tenaga kerja intensif.
Untuk menentukan kriteria mana yang harus diambil juga sangat sulit. Sehingga pada akhirnya kembali pada masalah bahwa tujuan-tujuan ekonomi dan sosial-lah yang harus ditentukan lebih dahulu, baru mengambil keputusan kriteria mana yang akan digunakan. Yang harus diperhatikan bukan hanya kwantitas dan kwalitas persediaan faktor yang ada, tetapi juga berbagai akibat dari proyek yang dilakukan yaitu :
a.       akibatnya terhadap pendapatan nasional selama priode yang berbeda-beda.
b.      Keadaan-keadaan permintaan pasar.
c.       Kemampuan mewujudkan economies of scale
d.      Lamanya priode antara waktu mendirikan dan waktu menghasilakan
e.       Akibat terhadap pembagian pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita.
f.       Syarat-syarat yang dibutuhkan oleh neraca pembayaran
Terbatasnya sumber-sumber, baik tabungan yang tersedia untuk investasi maupun kemampuan untuk mengadakan investasi, memaksa diadakannya suatu pilihan di antara proyek-priyek.
Dalam teori tradisional, fungsi ini dilaksanakan oleh mekanisme pasar, dengan menyamakan produktivitas marginal dari berbagai proyek. Oleh karena pertimbangan-pertimbangan di atas dan kebutuhan-kebutuhan praktis dari para perencana pembangunan maka dibuat kriteria investasi. Bagaimana kita memilih proyek-proyek yang akan memberi sumbangan yang paling besar dibandingkan dengan ongkos-ongkosnya?. Sumbangan di sini yang dimaksud adalah sumbangan langsung kepada output apabila proyek itu sudah selesai.
5.      Penyerapan Kapital dan Stabilitas
Negara-negara berkembang tidak mungkin dapat menyerap capital tanpa batas.  Tiap-tiap Negara mempunyai kapasitas yang terbatas dalam menyerap capital. Kapasitas ini pada umumnya ditentukan oleh tersedianya faktor-faktor produksi komplementer yang akan bekerja sama dengan kapital dan perlunya menghindari inflasi dan mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran. Faktor-faktor yang terpenting yang membatasi kapasitas Negara berkembang untuk menyerap capital adalah :
·         kurangnya teknologi
·         kurangnya tenaga ahli
·         rendahnya mobilitas geografis tenaga kerja.
6.      Nilai-Nilai dan Lembaga.
Syarat ini merupakan syarat yang bersifat non ekonomi. Perubahan-perubahan institusional yang tidak semata-mata bersifat ekonomi harus membarengi usaha-usaha pembangunan. Kebutuhan-kebutuhan baru, motif-motif baru, cara-cara berproduksi baru, lembaga-lembaga baru perlu diciptakan jika pendapatan nasional hendak dinaikkan lebih cepat.       Dapat disimpulkan bahwa untuk menuntun kebijaksanaan investasi, tidaklah cukup hanya kriteria ekonomi, tetapi harus dilengkapi dengan kriteria non-ekonomi. Dengan demikian syarat-syarat yang diperlukan untuk pembangunan mengandung perubahan ekonomi dan perubahan non-ekonomi(perubahan kulturil). Persoalan pokok bukanlah berapa banyak perubahan ekonomi yang dapat diserap oleh perekonomian. Tetapi berapa banyak perubahan kulturil yang dapat diterima oleh penduduk yang sedang membangun dan bagaimana cepatnya.
                     II.     Indikator Pembangunan.
Tampaknya ada perbedaan alat pengukur pembangunan yang digunakan dalam definisi-definisi yang telah dikemukakan pada pertemuan terdahulu, Pendapatan nasional riil dan Pendapatan riil per kapita. Pendapatan nasional riil adalah output total suatu Negara yang berupa barang-barang akhir dan jasa-jasa yang dinyatakan dalam arti riil(bukan menurut uang) Pendapatan nasional juga dapat berarti Produk Nasional Bruto(Gross National Product) atau produk nasional netto (net national product).
Alat pengukur yang paling intensif ialah produk nasional netto, karena produk nasional bruto tidak memperhitungkan penggantian-penggantian capital. Jadi alat pengukur yang lebih baik adalah produk nasional netto. Kalau dikatakan bahwa suatu Negara mangalami pembangunan jika pendapatan nasional riilnya naik selama priode panjang. Di mana pendapatan nasional riil di sini sama dengan produk nasional netto yang telah disesuaikan dengan perubahan- perubahan harga. Ada pendapat pula bahwa pembangunan ini tidak hanya menambah output total, tetapi juga menaikkan taraf hidup. Oleh karena itu pembangunan ekonomi adalah suatu proses dengan mana pendapatan riil perkapita suatu Negara bertambah selama periode panjang. Pembangunan ekonomi sekaligus bertujuan menghilangkan kemiskinan. Sehingga ukuran yang digunakan adalah pendapatan riil perkapita.
Kiranya dapat diambil kesempatan bahwa ukuran yang paling relevan bagi pembangunan adalah pertambahan pendapatan nasional, karena ukuran ini dapat digunakan bagi Negara kaya atau maju maupun Negara-negara berkembang, seperti Negara-negara Amerika Serikat, Inggeris, Jepang dan Negara-negara kaya yang lain tidak mempersoalkan pendapatan per kapita lagi, karena pendapatan per kapita sudah tinggi. Yang dihadapi adalah masalah-masalah mempertahankan kelangsungan pertambahan pendapatan nasional yang terus menerus, sehingga dapat menghindari adanya deflasi maupun inflasi
                  III.     Menghitung Tingkat Laju Pertumbuhan Ekonomi
Untuk melihat lajunya pembangunan suatu Negara dan perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat, pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita dari masa ke masa perlulah ditentukan, oleh karena itu sebagai langka pertama dalam mempelajari masalah-masalah pembangunan, ada baiknya bila kita mempelajari cara-cara menentukan atas menghitung besarnya pendapatan nasional dan pendapatan perkapita pada suatu masa tertentu.
Pendapatan nasional merupakan nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam masa satu tahun. Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional ada 3(tiga) cara :
1)   Cara Pengeluaran : pada cara ini yang dihitung adalah nilai produksi yang diciptakan oleh factor-faktor produksi yang dimiliki oleh seluruh warga Negara yang bersangkutan. Berarti dalam cara ini tidak termasuk pendapatan warga Negara asing atau modal luar negeri yang terdapat di negar itu, tetapi termasuk pendapatan modal dan warga Negara itu dari luar negeri.
Cara Pengeluaran adalah cara menentukan pendapatan nasional dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran berbagai golongan pembeli dalam masyarakat. Dalam cara ini yang dihitung hanya meliputi transaksi-teransaksi barang jadi (final goods). Jadi bukan nilai dari setiap teransaksi di antara penjual dan pemmbeli. Agar perhitungan dua kali(double counting) dapat dihindarkan. Menurut cara pengeluaran, pendapatan nasional dipperoleh dengan menjumlahkan nilai pengeluaran rumah tangga, pengeluaran para pengusaha, pengeluaran pemerintah dan pendapatan export dikurangi dengan pengeluaran atau barang-barang import. Nilai Pendapatan nasional yang diperoleh disebut Produk Nasional Bruto atau Gross National Product(GNP).
2)   Cara Produksi : pada cara ini yang dihitung adalah nilai produksi yang diciptakan oleh factor-faktor produksi yang ada di suatu Negara. Tanpa membedakan apakah factor produksi itu milik orang luar negeri, tanpa membedakan apakah factor produksi itu milik orang luar negeri atau warga Negara itu sendiri.
Menghitung Pendapatan nasional dengan cara produksi, mula-mula harus ditentukan nulai produksi yang diciptakan oleh masing-masing sector yang terdapat di dalam perekonomian. Pendapatan nasional diperoleh dengan menjumlahkan nilai produksi yang diciptakan oleh sector-sektor perekonomian. Nilai yang diperoleh disebut Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product(GDP). Yang dijumlahkan hanyalah nilai produksi tammbahan atau value added yang diciptakan, dengan cara ini dapat menunjukkan sumbangan yang sebenarnya dari tiap-tiap sector dalam menciptkan produksi nasional.
3)   Cara Pendapatan : pada cara ini yang dihitung adalah pendapatan factor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa
Dalam cara pendapatan, pendapatan nasional dihitung dengan mmenjumlahkan pendapatan factor-faktor produksi yang digunakan dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Jadi yang dijumlahkan dalam menghitung pendapatan nasional adalah pendapatan yang diperoleh para pekerja, para pengusaha dan pendapatan para pemilik modal. Nilai yang didapat disebut Pendapatan nasional atau National Income (NI). Jadi istilah pendapatan nasional dapat mempunyai dua arti, yaitu merupakan pendapatan dari factor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi dan pendapatan nasional adalah produksi nasional sesuatu Negara
( Product Domestic Bruto = Produk Nasional Bruto).
                  IV.     Arti dan Istilah Under Development
Istilah ini digunakan dalam berbagai cara, kerap kali “Undeveloped countries” disamakan dengan “Under Developed countries”. Tapi kedua istilah ini dengan mudah dapat dipisahkan sebuah underveloped country adalah Negara yang tidak mudah dapat dipisahkan sebuah undeveloped country adakah Negara yang tidak mempunyai prospek berkembang, sedangkan under developed county merupakan Negara yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Yang termasuk undeveloped country adalah the antartic, the artic dan sebagian gurun sahara, sedangkan India, Pakistan, Uganda, Coulombia  dll. Tergolong under developed countries.
Ada beberapa istilah Under Developed Countries
a.       Under Developed Country
b.      Pooer County
c.       Less Developed Country
d.      Development Country
e.       Backward Country
f.       The Third World

Agak sulit memberikan definisi yang tepat mengenai underdevelopment (Keterbelakangan), ini dapat didefinisikan dengan berbagai cara yaitu: menurut segi kemiskinan, kekurangan pendidikan atau penyakit, menurut kejelekan distribusi dari pendapatan nasional, menurut ketidak beresan adminstrasi, maupun menurut kesemwarutan organisasi masyarakat, jadi terdapat tidak hanya satu definisi, tetapi pada dasarnya mempunyai maksud yang sama.
Yang dimaksud Under Developed Country adalah suatu Negara dimana struktur ekonominya belum berkembang sebagaimana yang diharapkan serta belum mampu memanfaatkan semua factor-faktor produksi yang dimilikinya untuk meningkatkan kemakmuran penduduk, sehingga penduduk Negara itu tetap dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Untuk itu kita akan mengemukakan beberapa definisi dari para ahli mengenai underdevelopment :
a.    Simon Kuznets, menyarankan tiga definisi mengenai Under Developed Country(UDC).
·  UDC. Adalah ketidak mampuan untuk mencapai penuh output ekonomi potensiil yang dapat dicapai dengan teknologi yang berlaku, kegagalan tersebut disebabkan karena penghalang-penghalang yang inherent dengan lembaga-lembaga social intern atau extern bagi suatu Negara.
·  UDC. Adalah keterbelakangan dalam tingkat dan sifat prestasi ekonomi dibandingkan dengan Negara-negara lain. Dalam artian ini UDC merupakan soal perbedaan tingkat kebanyakan Negara kecuali beberapa Negara yang dianggap paling maju adalah underdeveloped.
·  UDC. Adalah ketidak mampuan untuk menyediakan tingkat kehidupan yang layak bagi sebagian besar penduduknya dengan akibat timbulnya kemiskinan dan kemelaratan.
b.    Menurut Viner UDC. Adalah Negara yang mempunyai prospek potensial yang baik untuk menggunakan lebih banyak tenaga kerja atau lebih banyak modal atau lebih banyak sumber alam yang tersedia atau semua dari factor produksi agar mengangkat peduduknya kepada tingkat kehidupan yang tinggi, maka unsure produksi itu dipakai untuk membantu sebagian besar penduduk untuk tidak mencapai tingkat kehidupan yang lebih rendah.
c.    Ragnar Nurkse, UDC. Adalah suatu Negara yang sedang membangun bilamana dibandingkan dengan Negara-negara yang ekonominya lebih maju dan Negara demikian punya sedikit modal dibandingkan dengan jumlah penduduk dan sumber-sumber alamiahnya.
d.   Prof. Harvey Leibenstain, UDC. Adalah suatu Negara dimana sumber-sumber ekonomi penduduk, teknologi dan sebagainya dapat berubah, tetapi pendapatan perkapita agak stabil dan berada pada tingkat subsustensi.
                     V.     Ciri-Ciri Under Development.
Untuk mendapatkan pengertian dan gambaran yang lebih jelas tentang underdevelopment country marilah kita menelaah ciri-ciri dari beberapa pendapat para ahli antara lain :
a.    Menurut Baldwin & Meier, ada 6(enam) sifat ekonomi yang dipunyai oleh Negara-negara miskin sbb. :
·  Menghasilakan barang-barang primer
·  Menghadapi tekanan penduduk
·  Mempunyai sumber-sumber alam yang belum dikembangkan.
·  Mempunyai penduduk yang ekonominya terkebelakang
·  Kekurangan capital
·  Tertuju pada perdagangan luar negeri



b.    Prof. Harvey Leibenstain :mengemukakan cirri-ciri UDC sbb. 
·  Bagian terbesar dari penduduk bekerja di sector pertanian ( 70 s/d 90 %
·  Terdapat disquished unemployment, serta kurangnya lapangan kerja di luar sector pertanian.
·  Kelebihan penduduk secara mutlak dalam bidang pertanian sedangkan output yang dicapai tetap.
·  Modal perkapita kecil.
·  Pendapatan perjiwa rendah akibatnya tingkat hidupnya masih rendah.
·  Tabungan sedikit bagi massa terbesar masyarakat.
·  Pengeluaran-pengeluaran sebagian besar diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer.
·  Eksport barang-barang produksi primer.
·  Volume perdagangan yang rendah perkapita
·  Fasilitas-fasilitas kredit dan pemasaran kurang baik.
·  Perumahan-perumahan buruk.
c.    Ciri-ciri Umum Under Developed Country, adalah sebagai berikut :
·  Terdapat kemiskinan, kemelaratan dan pengangguran
·  Kurang modal dan kurang tenaga skills
·  Struktur ekonominya belum belum berkembang
·  Jaringan-jaringan transportsi masih kurang
·  Produksi yang dihasilkan berupa barang-barang primer dari pertanian dan pertambangan.
·  Tenaga Kerjanya sebagian besar kurang trampil atau unskills
·  Tabungan dan investasi masih kecil
·  Masyarakatnya adalah masyarakat tradisional serta sering bertindak kurang ekonomi.

Masalah pembangunan ekonomi bukan saja harus diterangkan berdasarkan analisa kwantitatif, tetapi juga berdasarkan analisa kwalitatif artinya dibutuhkan kerjasama ilmu ekonomi, sejarah, sosiologi, politik, keamanan dan stabilitas pemerintahan untuk menyelidiki gejala-gejala ekonomi serta social yang mengatur perubahan ekonomi.

C.     MAKNA PEMBANGUNAN
1.   Pandangan Tradisional
Pengertian pembangunan harus dilihat secara dinamis, dan bukan dilihat sebagai konsep statis, Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan uapaya menjadi proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri (self sustaining process) tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah belaka, Pembangunan tergantung dari suatu “Innerwill” proses emansipasi diri. Dan suatu partisipasi kreatif dalam proses pembangunan hanya menjadi mungkin karena proses pendewasaan.
Dalam berbagai kepustakaan tentang pembangunan ekonomi dan politik, masyarakat bangsa-bangsa dapat diklasifikasi secara sosiologi ke dalam 3(tiga) katgori:
1 . Masyarakat yang masih bersifat tradisional
2 . Masyarakat yang bersifat peralihan(Transitional)
3 . Masyarakat maju (Modern)
Sudah barang tentu klasifikasi tersebut memuat berbagai variasi, misalnya ada masyarakat bangsa-bangsa tertentu yang telah mempunyai sektor kehidupan maju tetapi di lain masih bersifat tradisional.
Negara-negara baru berkembang seperti disebutkan terdahulu pada umumnya sedang berusaha untuk mengembangkan dirinya dari suatu keadaan dan sifat masyarakat tradisional dengan keadaan ekonomi terkebelakang, menuju kearah keadaan yang dianggap lebih baik. Paling sedikit apabila hal ini menyangkut ekonomi dan social, ditujukan kearah mendapatkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi yang lebih baik.
Ciri keterbelakangan di bidang sosial adalah sifat masyarakat yang tradisional terikat pada nilai-nilai asli (primordial) yang pada dirinya memang ingin memelihara secara tetap apa yang ada. Dengan demikian tidak memberikan peluang cukup untuk adanya perubahan-perubahan serta tumbuhnya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat. Suatu kondisi keterbelakangan yang memperkuat hal tersebut adalah rendahnya sistim dan mutu pendidikan. Kesemuanya itu dilatarbelakangi pula oleh belenggu feodalisme dan kolonialisme masa lampau. Kelompok-kelompok elit politik yang pada masa lepas kolonialisme seringkali dilihat dari sifatnya menjadi penerus atau preservasi ciri-ciri dari tradisi dan feodalisme.
Hal tersebut diatas juga dialami di Indonesia sebagai suatu kenyataan yang perlu diubah keadaanya. Di indonesia hal ini ditambah pula dengan penyebaran peduduk yang tidak merata, tingkat urbaniasi yang tinggi, ”burden of dependency” yang besar dan tingginya laju pertumbuhan dari golongan penduduk usia kerja. Masalah pengangguran dan pengangguran terselubung yang tinggi masih dihadapi. Dunia usaha seringkali juga lemah karena kurangnya kewirausahaan (enterpreneurship). Hal ini antara lain diakibatkan karena semangat tradisional, warisan kolonialisme , semangat etatisme, dan sosialisme tradisional yang banyak berpengaruh pada tahap-tahap permulaan perkembangan negara-negara baru merdeka tersebut.

2.   Perkembangan Paradigma Pembangunan.
Untuk menanggulangi kondisi-kondisi keterbelakangan tersebut, terutama di bidang ekonomi. Pembangunan berencana dirasakan sebagai alternative yang rasional. Adalah penting kiranya bahwa penanggulangan secara sadar kompleksitas masalah-masalah yang dihadapi, dengan perencanaan ataupun tidak, dapat saling berhubungan dan saling mendukung. Peningkatan dan arah perkembangan di bidang pendidikan misalnya dapat sangat mempengaruhi tingkat produktivitas masyarakat dalam berekonomi. Melalui perencanaan kondisi-kondisi keterbelakangan dan masalah-masalah yang dihadapi itu diusahakan mengatasinya secara sistimatis dalam rangka pertumbuhan dan pembangunan selaras dengan aspirasi-aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat bangsa bersangkutan.
Cara-cara penanggapan biasanya dilakukan atas penelaah dan pengenalan masalah-masalah dalam bidang masing-masing serta berdasar teknik dan peralatan analisa yang ada di bidang ekonomi, sosial dan politik, kemudian dirumuskan berbagai kebijaksanaan dan program-program kegiatan usaha. Hal tersebut dapat dipengaruhi pula oleh kondisi, aliran-aliran pemikiran dan pertumbuhan politik yang ada dalam masyarakat, tergantung pada sistim politik yang hidup di dalamnya. Tujuan usaha dalam bidang sosial pada umumnya adalah mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap dalam masyarakat yang lebih kondusif bagi pembaharuan, pembangunan dan pembinaan bangsa.
Di bidang ekonomi usaha ditujukan untuk menambah peralatan modal dan keterampilan agar satu sama lain dapat mendukung usaha-usaha peningkatan pendapatan perkapita serta produktivitas per kapita. Pemupukan modal amat tergantung kepada tabungan dalam negeri oleh karena itu berbagai upaya perlu ditujukan untuk mencapainya. Untuk mengatasi keterbatasan di bidang pembiayaan seringkali diperlukan dana-dana dari luar negeri sebagai komponen komplementer. Difersifikasi ekonomi juga salah salah satu tujuan lain untuk mengatasi keterbelakangan ekonomi. Hal stategis yang tak boleh diabaikan adalah pembinaan keterampilan dan kewirausahaan. Salah satu unsur penting dalam perspektif pembangunan ekonomi yang lebih terasah pada akhir-akhir ini adalah orintasi keaddilan sosialnya.
”Proses pembangunan nasional” sebagai perjuangan suatu bangsa dalam menghadapi keterbelakangan dan hambatan-hambatan di berbagai bidang, dimana system perencanaan dipandang sebagai alternative yang rasional, kemakmuran, keadilan dan partisipasi merupakan dimensi pada setiap perspektif historis dalam pembangunan"
Perubahan-perubahan dalam masyarakat yang bersifat menyeluruh itu dapat dikembangkan secara sadar oleh Pemerintah, yang sebaiknya pula mewakili kekuatan-kekuatan pembaharuan di dalam masyarakat. Tetapi pada akhirnya supaya perubahan-perubahan itu mempunyai kemampuan berkembang dinamis, perlulah proses tersebut didukung dan dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pembaharuan dan pembangunan yang timbul dan bergerak di dalam masyarakat bangsa itu sendiri, Harus diakui bahwa pada umumnya di negara-negara baru berkembang,kekuatan-kekuatan pembaharuan di dalam masyarakat sendiri masih lemah. Kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat ini disebut ”autonomous energies” oleh Milton J. Esman. Demikian pula usaha untuk menyalurkan dan mengarahkan berbagai kepentingan dan tuntutan yang sering bertentangan di dalam masyarakat dalam rangka kepentingan nasional dan kepentingan pembangunan yang menyeluruh. Pembangunan itu sendiri, seperti telah dikemukakan di atas, meliputi perubahan-perubahan sosial yang besar. Hal tersebut seringkali mengakibatkan adanya frustasi, kegoncangan dalam identitas, dan lain-lain bagi sebagian masyarakat.



D.    FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENDUKUNG PEMBANGUNAN
1  .Penghambat-Penghambat Pembangunan(Faktor dalam Negeri)
Untuk menjelaskan sebab-sebab Negara-negara berkembang menghadapi banyak kesulitan dalam usaha menciptakan perkembangan ekonomi yang lebih cepat, beberapa analisa telah dibuat terhadap faktor-faktor yang dipandang sebagai penghambat-penghambat utama pembangunan ekonomi. Analisa tersebut dikenal sebagai teori-teori mengenai penghambat pembangunan atau Theories of Modern Development.
Berikut ini akan diuraikan teori yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk hambatan tersebut.
o  Akibat perkembangan penduduk terhadap perkembangan tingkat kesejahteraan  masyarakat dan pengaruhnya terhadap pembangunan.
Ahli-ahli ekonomi pada umumnya sependapat bahwa penduduk dapat menjadi faktor pendorong maupun penghambat dalam pembangunan ekonomi.
o  Sebagai Faktor Pendorong karena
·      Perkembangan penduduk memungkinkan pertambahan jumlah tenaga kerja.
·      Petambahan penduduk dan pemberian pendidikanm sebelum menjadi tenaga kerja, memungkinkan suatu masyarakat memperoleh bukan saja tenaga kerja tanpa keahlian sama sekali, tetapi juga tenaga kerja terampil, tenaga kerja terdidik dan golongan usahawan yang berpendidikan,
·      Pertambahan penduduk memungkinkan perluasan pasar, Luas pasar barang-barang dan jasa-jasa ditentukan oleh jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat.
·      Pertambahan penduduk dapat menciptakan dorongan untuk mengembangkan teknologi.
o  Sebagai faktor penghambat karena.
·      Pertambahan penduduk yang pesat di Negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak meningkat, bahkan dalam jangka panjang mungkin menurun.
·       Pertambahan penduduk yang pesat mengakibatkan proporsi(struktur) penduduk mudah lebih besar, dan keadaan ini mengharuskan Pemerintah mananam modal lebih banyak untuk pendidikan, fasilitas kesehatan dan perumahan.
·      Pertambahan penduduk yang pesat menyukarkan usaha dalam pemerataan pendapatan.
·      Pertambahan Penduduk yang pesat menyulitkan dalam pemilihan teknologi.
·      Pertambahan penduduk yang pesat dapat mengakibatkan berkurangnya barang eksport dan meningkatkan barang import, yang dapat berakibat tidak seimbangnya neraca pembayaran.
·      Pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan pengangguran bertambah serius.
o  Mekanisme Pasar dan Penggunaan Tenaga Kerja.
Ada beberapa dualisme di Negara-negara berkembang yaitu dualisme social, dualisme financial dan dulisme regional. Analisa-Analisa tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa berbagai macam dualisme yang terdapat di  Negara-negara berkembang terutama dualisme social dan teknologi menimbulkan keadaan yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi secara semestinya. Ketidak sempurnaan mekanisme pasar ini selanjutnya mengakibatkan sumber-sumber daya yang tersedia tidak digunakan secara efesien. Disamping itu penggunaan teknologi yang terlalu tinggi disektor modern menimbulkan kesulitan bagi suatu Negara untuk mempercepat perkembangan kesempatan kerja di sektor modern. Hal ini menambah kerumitan masalah pengangguran yang dihadapi dan akan memperbesar jurang diantara tingkat pendapatan di sektor-sektor ekonomi yang tradisional. Berbagai corak hambatan yang timbul akibat adanya sifat-sifat dualisme dalam perekonomian dapat pula dilihat antara lain :
o  Sebagian besar dari kegiatan-kegiatan ekonomi Negara berkembang yang relative miskin masih di laksanakan dengan teknik-teknik yang sangat sederhana diazaskan kepada cara berfikir yang masih tradisional. Hal ini menyebabkan : Produktivitas berbagai kegiatan produktif sangat rendah dan usaha-usaha untuk mengadakan perubahan dan pembaharuan sangat terbatas. Dengan demikian cara-cara produksi yang tradisional yang produksivitasnya rendah tidak mengalami perubahan dari masa-kemasa. Kehidupan masyarakat demikian membatasi kemungkinan mengadakan perbaikan-perbaikan dalam teknologi produksi dan pengembangan penemuan baru, selain itu menimbulkan pula ketidak sempurnaan di dalam pasar, sehingga mekanisme pasar tidak dapat berfungsi secara efesien.
o  Dalam suatu masyarakat tradisional umumnya bersifat : Tarap pendidikan sebagian besar masyarakat masih sangat rendah, cara hidup dan berfikir sangat dipengaruhi oleh adaptasi dan nilai agama dan sifat feodalisme masih terasa dalam hubungan sosial, menimbulkan beberapa macam ketidak sempurnaan keadaan pasar misalnya immobilitas faktor-faktor produksi yang menimbulkan perbedaan tingkat upah di berbagai sektor, perbedaan tingkat pendidikan dan keterampilan, kekurangan pengetahuan masyarakat mengenai pasar dan sebagainya.
o  Selain pengaruh dualisme sosial di atas, sering pula di sebut-sebut adanya dualism teknologi yang dapat mempengaruhi laju pembangunan.
Pertama: Dualisme teknologi sebagai akibat penggunaan modal asing atas sektor modern, sebagian keuntungan yang diperoleh modal asing tersebut akan di bawa ke luar negeri dan dapat mengurangi potensi tabungan yang dapat dikerahkan untuk pembangunan dalam negeri.
Kedua : Dualisme teknologi akan membatasi kemampuan sektor modern menciptakan kesempatan kerja membatasi kemampuan sektor pertanian untuk berkembang, dan memperburuk masalah pengangguran.
o  Lingkaran Perangkap Kemiskinan ( The Vicion Cirkes ).
Yang di maksud dengan lingkaran Perangkap Kemiskinan adalah suatu rangkaian kekuatan-kekuatan yang saling mempengaruhi satu sama lain sedemikian rupah, sehingga menimbulkan keadaan dimana suatu Negara tetap miskin dan akan mengalami banyak kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi. Teori ini bersumber dari R.Nukse yang di kemukakan untuk menjelaskan tentang perlunya di laksanakan strategi pembangunan seimbang di Negara-negara berkembang. Menurut pandangan Nukse, terdapat dua jenis lingkaran kemiskinan yang menghalangi Negara-negara berkembang untuk mencapai tingkat pembangunan yang pesat yaitu Dari Segi Penawaran modal dan dari segi Permintaan Modal:Dari segi Penawaran Modal, dapat dilihat sebagai berikut: Dinegara-negara miskin, perangsang untuk penanaman modal rendah karena luas pasar untuk berbagai jenis barang terbatas, ini disebabkan oleh pendapatan masyarakat yang rendah, Pendapatan masyarakat rendah disebabkan oleh produktivitas yang rendah karena pembentukan modal  masa lalu rendah, Pembentukan modal yang terbatas ini disebabkan oleh kurangnya perangsang untuk penanaman modal.
Menurut Mier dan Baldwin sebagai berikut :  lingkaran perangkap kemiskinan ini timbul dari hubungan saling mempengaruhi antara keadaan masyarakat yang masih terkebelakang dan tradisionil dengan kekayaan alam yang masih belum dikembangkan. Untuk mengembangkan kekayaan alam yang dimiliki harus ada tenaga kerja yang mempunyai keahlian untuk memimpin dan melaksanakan berbagai macam kegiatan ekonomi. Dinegara-negara berkembang kekayaan alam belum sepenuhnya di usahakan dan dikembangkan karena tingkat pendidikan masyarakat relative lebih rendah, kurangnya tenaga ahli yang diperlukan dan kurangnya mobilitas dari sumber-sumber daya. Kekayaan ini diberbagai Negara menunjukkan bahwa makin kurang berkembang keadaan sosial dan ekonomi suatu Negara, makin terbatas jumlah sumber-sumber daya dan kekayaan alam yang dimilikinya yang sudah berkembang. Sebaliknya pula karena kekayaan alam yang dimilikinya belum sepenuhnya dikembangkan, maka tingkat pembangunan masyarakat tersebut adalah rendah dan membatasi kemampuannya untuk mempertinggi tingkat pengetahuan dan keahlian penduduk. Lingkaran Perangkap Kemiskinan tersebut diatas dapat digambarkan sbb:
Kekayaan Alam kurang dikembangkan
Masyarakt masih terkebelakang
Kekurangan modal
Prooduktivitasn rendah
Pembentukan modal rendah
Tabungan rendah
Permintaan rendah
Pendapatan rill rendah
Pada hakekatnya, teori lingkarang perangkap kemiskinan ialah
·      Ketidak mampuan menggerakkan tabungan
·      Kekurangan perangsang untuk melakukan penanaman modal
·      Tahap pendidikan, pengetahuan dan kemahiran masyarakat yang relative rendah
2
Penghambat-Penghambat Pembangunan( Faktor Luar Negeri)Disamping keadaan-keadaan yang berlaku di Negara-negara berkembang sendiri terdapat pula pengaruh-pengaruh yang berasal dari Negara maju yang dapat mengurangi kemampuan Negara-negara berkembang untuk mempercepat pembangunan ekonomi mereka :
a)   Peran Eksport dalam Pembangunan Ekonomi.
Ahli-ahli ekonomi klasik mengemukakan sumbangan penting dari kegiatan pandangan luar negeri dalam pembangunan ekonomi yaitu: Ricardo : Mengemukakan yang paling utama bahwa apabila suatu Negara sudah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, perdagangan luar negeri memungkinkan mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari pada yang mngkin dicapai tanpa adanya kegiatan itu. Selanjutnya Smith dan Mill, mengemukakan dua keuntungan lainnya dari perdagangan luar negeri yaitu
·      Memungkinkan suatu Negara memperluas pasar dari hasil-hasil produksinya.
·      Memungkinkan Negara tersebut menggunakan teknologi yang dikembangkan di luar negeri, yang lebih baik dari pada terdapat di dalam negeri.
b)   Struktur Eksport Kolonial dan Pengaruhnya Terhadap Pembangunan Ekonomi. ( Masalah Struktur Eksport berupa Bahan Mentah). Yang dimaksud dengan struktur eksport Kolonial adalah struktur eksport suatu Negara yang memiliki tiga ciri pokok yaitu :
·      Sebagian besar dari barang-barang yang di eksport merupakan hasil-hasil industry primer (pertanian, kehutanan, pertambangan yang masih merupakan bahan mentah).
·      Bahan mentah yang di eksport tersebut, jenis-jenisnya sangat terbatas.
·      Sektor eksport pada mulanya dikembangkan terutama oleh pengusaha-pengusaha yang berasal dari Negara-negara penjajah.
Ciri-ciri ini merupakan keadaan sektor eksport dikebanyakan Negara berkembang. Beberapa ahli ekonomi terutama Mirdal, Myint, Prebisch, Singer dan Meier telah menunjukkan bahwa ciri-ciri sektor eksport seperti yang baru dinyatakan ini tidak dapat memberikan sumbangan yang memuaskan kepada usaha untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
Myrdal, menjelaskan sebab-sebab sektor eksport di negera-negara berkembang memberikan sumbangan yang kurang memuaskan adalah sejalan dengan teorinya mengenai proses sebab akibat komulatif, dimana dalam kegiatan perdagangan di antara Negara-negara kaya dan Negara-negara miskin, mekanisme pasar akan menimbulkan suatu proses komulatif yang akan mengekalkan keadaan tidak berkembang(stagnasi) dan tingkat kesejahteraan yang rendah di Negara-negara miskin.
c)   Proses Sebab Akibat Komulatif.
Menurut pendapat klasik mengenai mekanisme pasar dalam jangka panjang akan  menciptakan proses pembangunan yang seimbang di berbagai Negara, Myrdal tidak sependapat dengan pandangan klasik tersebut dengan kenyakinan bahwa proses pembangunan terhadap faktor-faktor yang akan memperburuk perbedaan tingkat pembangunan diantara  berbagai daerah atau Negara. Keadaan ini terjadi sebagai akibat berlakunya proses sebab akibat komulatif, sehigga pembangunan daerah-daerah yang lebih maju akan menciptakan beberapa keadaan yang akan menimbulkan hambatan yang lebih besar  kepada daerah-daerah yang terkebelakang untuk berkembang. Keadaan yang menghambat pembangunan ini digolongkan sebagai “Backwash effect” sedangkan keadaan-keadaan yang akan mendapat mendorong pembangunan ekonomi di daerah lebih miskin dinamakan “ Spread effect” Faktor faktor yang menyebabkan Backwash effect yaitu :
·      Corak perpindahan penduduk dari daerah miskin ke daerah kaya
·      Corak pengaliran modal, dimana daerah miskin kurang permintaan akan modal di banding daerah kaya.
·       Pola perdagangan dan kegiatan perdagangan umumnya didominasi oleh industry di daerah maju.
Faktor yang menyebabkan Spread effect ialah “ Pertambahan permintaan dari daerah kaya terhadap produksi daerah miskin”

E.     KEBIJAKSAAN DALAM PEMBANGUNAN
Masalah Kebijaksanaan Pembangunan Ekonomi
Disamping syarat-syarat umum yang diperlukan untuk pembangunan, seperti kekuatan-kekuatan dari dalam negeri meliputi, penyempurnaan pasar, akumulasi capital, kriteria invesatasi, penyerapan kapital dan Stabilitas dan nilai-nilai dan lembaga-lembaga. Diperlukan pula tindakan-tindakan kebijaksanaan khusus yang melengkapi syarat-syarat umum.
Berbagai teori tentang pembangunan mempunyai implikasi kebijaksanaan tertentu, keputusan kebijaksanaan mengandung pilihan antara alternative-alternatif  ini berbeda untuk masing-masing Negara.  Tidak ada program pembangunan yang dapat berlaku bagi semua Negara. Masing-masing Negara mempunyai kebijaksanaan tertentu. Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri-ciri, masalah-masalah yang dihadapi dan tujuan-tujuan yang akan dicapai adalah sangat berbeda coraknya.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka timbullah suatu pertanyaan. Dapatkah teori-teori ekonomi yang konvensional yaitu teori-teori ekonomi yang digunakan untuk menganalisa masalah-masalah ekonomi di Negara-negara maju digunakan sebagai landasan untuk merumuskan kebijaksanaan bagi Negara-negara berkembang?. Masalah-masalah kebijaksanaan dapat dipisahkan menjadi 2(dua) golongan besar yaitu :
§ Kebijaksanaan dalam negeri
§ Kebijakskanaan luar negeri(internasional)

I. Kebijaksanaan dalam negeri antara lain : Perbaikan pertanian, Kebijaksanaan fiskal, Kebijaksanaan moneter, Kebijaksanaan pendidikan&kesehatan dan Kebijaksanaan Public utilities.
1.a. Perbaikan Pertanian. Di Negara berkembang produktivitas pertanian adalah rendah. Kebijaksanaan perbaikan pertanian harus dikaitkan dengan rendahnya produkstivitas pertanian dan sebab-sebabnya. Tujuan kebijaksanaan pertanian adalah kenaikan output pertanian yaitu menambah hasil per hektar atau luas tanah yang di olah. Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian biasanya banyak sekali bila dibandingkan dengan jumlah kapital yang ada. Maka tujuan utama kebijaksanaan disini adalah keharusan menambah output per hektar, bukannya output per tenaga kerja. Tujuan ini menghendaki supaya tanah dikerjakan secara intensif dan menggunakan teknik produksi intensif tenaga kerja bukan intensif modal(secara mekanis)
1.b. Kebijaksanaan Fiskal, Kebijaksanaan  Fiskal adalah kebijaksanaan pemerintah didalam memungut pajak dan membelanjakan pendapatan pajak tersebut untuk membiayai kegiatan-kegiatannya. Penggunaan kebijaksanaan fiskal yang luas dan efektif dapat mempercepat pembangunan di Negara-negara berkembang. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dihubungakan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah mempunyai 4(empat) akibat penting terhadap tingkat pembangunan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut dapat dengan akibat :
§ Mempengaruhi alokasi sumber-sumber.
§ Mengubah pembagian pendapatan.
§ Mendorong akumulasi capital
§ Mencegah inflasi
Pola penerimaan dan pengeluaran pemerintah akan mempengaruhi alokasi sumber-sumber. Pengeluaran pemerintah dalam sektor perekonomian tertentu cendrung untuk menarik sumber-sumber ke sektor tersebut sedang perpajakan dalam suatu sektor tertentu cendrung untuk mendorong sumber-sumber ke luar dari sektor itu.
I.c. Kebijaksanaan Moneter, Kebijaksanaan moneter adalah kebijaksanaan yang dijalankan oleh Bank Sentral, untuk mengurangi jumlah penawaran uang dalam masyarakat. Sebelum Keynes, kebijaksanaan moneter merupakan satu-satunya alat(instrument) kebijaksanaan makro yang diandalkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah makro ekonomi, Pada waktu itu tujuan Pemerintah yang terutama adalah menjaga kestabilan harga. Ada beberapa kebijaksanaan moneter yang dapat dilakukan :
§ Mengubah tingkat cadangan minimum bank-bank komersial
§ Mengubah tingkat bunga dari pinjaman Bank sentral kepada bank-bank komersial.
§ Mengadakan operasi pasar terbuka.
§ Menambah prioritas dan jenis-jenis pinjaman yang dapat diberikan oleh bank-bank komersial
kepada langganan.
Pemerintah melalui Bank sentral harus menggunakan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut diatas untuk mempengaruhi pengeluaran masyarakat kearah yang dikehendaki. Pada waktu resesi dan tingkat pengangguran tinggi, pemerintah harus berusaha mempertinggi pengeluaran seluruh masyarakat dengan cara mempertinggi penawaran uang dalam masyarakat.
I.d. Kebijaksanaan Pendidikan&Kesehatan. Perluasan fasilitas pendidikan dan tindakan-tindakan kesehatan umum adalah sangat penting, karena hal ini dapat menurunkan hambatan-hambatan terhadap pembangunan di negara berkembang, dapat mengurangi keterbelakangan penduduk, dapat menambah mobilitas geografis dan pekerjaan mereka, menaikkan produktivitas dan memudahkan inovasi. Tindakan memperbaiki pendidikan dan kesehatan mempunyai efek yang sama, seperti investasi dalam sumber-sumber manusia yaitu kwalitas pendidikan sebagian faktor produksi ditingkatkan, dari sudut mempercepat pembangunan, tujuan umum pendidikan harus menyebarkan perubahan ke seluruh masyarakat, pendidikan harus dihubungkan dengan modifikasi suasana sosiokulturir sedemikian rupa sehingga pengetahuann dan keahlian-keahlian baru dapat diajarkan, diakui baiknya perubahan dan untuk cara-cara baru didorong. 3(tiga) lapangan tertentu yang layak mendapat prioritas tertinggi dalam pengeluaran-pengeluaran untuk pendidikan:
§ Menyediakan jasa-jasa bagi perluasan pertanian.
§ Latihan dalam keahlian industry.
§  Latihan dalam pengawasan dan Administratif.
Untuk menambah tenaga produktif dan efesien dapat dicapai pula dengan menjalankan kebijaksanaan di lapangan kesehatan umum, karena pengaruh penyakit yang melemahkan kesehatan dapat dikurangi. Tindakan-tindakan kesehatan misalnya menambah jumlah pengobatan dengan gratis atau mudah di desa-desa, menyediakan air bersih, membersihkan selokan-selokan perumahan yang lebih baik.
Ditinjau dari sudut menaikkan pendapatan rill perkapita, tindakan—tindakan kesehatan umum mempunyai dua akibat yaitu :
(1). Mempermudah pembangunan dengan memperbaiki komposisi kwalitas tenaga kerja
(2).Menyebabkan kebutuhan akan pembangunan menjadi lebih urgen dengan bertambahnya jumlah penduduk.
I.ePublic Utilities, Tiap-tiap proyek biasanya menunggu tersedianya public overhed capital         (fasilitas-fasilitas pengangkutan, perhubungan, tenaga, persediaan air dan pekerjaan pengawetan, jalan-jalan dan telekomunikasi dsb). Walaupun investasi dalam overhead capital akan  memberi dasar bagi perluasan ekonomi, namun penyediaan modal tidak menarik bagi investor swasta, maka pemerintah yang biasanya harus menyediakan public overhead capital.

II. Kebijaksanaan Luar Negeri, Kebijaksanaan Luar Negeri meliputi :
II.a. Politik Perdagangan. Negara-negara berkembang kebijakan perdagangannya mula-mula untuk melindungi industri-industri dalam negeri, misalnya proteksi, subsidi dan multiphel exchange rates, memberikan subsidi pada industri-industri tertentu (subsidi ini dapat memperendah harga jual). Cara ini akan dapat memperbaiki terms of trade di Negara yang menjalankan tariff proteksi. Multiple exchange rate yaitu kurs devisa berbeda-beda bagi barang-barang import. Misalnya kurs devisa untuk import barang lux lebih rendah dari barang-barang yang lain.
II.b. Bantuan Teknik. Yang dimaksud bantuan teknik ialah mengatur atau membentuk team internasional untuk memberi nasehat kepada pemerintah Negara berkembang, misalnya, memberikan training bagi teknisi-teknisi. Bantuan teknis ini tidak mudah dijalankan karena bantuan teknis harus disertai dengan perubahan-perubahan sosial yang komplementer dengan perubahan teknik yang bersangkutan.
II.c. Investasi Swasta Luar Negeri. Investasi swasta luar negeri dapat berbentuk investasi langsung, misalnya. Investasi portofolio. Investas langsung yaitu investasi langsung mempunyai usaha di negara dimana modal tersebut ditanamkan, misalnya penanaman modal asing di Indonesia, Investasi portofolio adalah investasi dalam bentuk pinjaman jangka panjang, misalnya obligasi atau hipotek. Contoh si pemilik surat-surat berharga tersebut diberikan berupa bunga tetap, bukan pembagian keuntungan.
II.d. Selain Investasi langsung dan Pottofolio tersebut yaitu Kredit Penjual, misalnya Modal yang masuk di Indonesia sebagai pinjaman yang ditanggung pemerintah yang merupakan utang pemerintah Indonesia, Investasi asing pemerintah beban menurut keadaan Negara peminjam misalnya Bank Dunia. Pertimbangan pemerintah Indonesia menerima masuknya direct foreign investment di antaranya adalah:
1).Tujuan memperoleh pendapatan Negara(dalam bentuk pemasukan pajak, baik pajak langsung, maupun tindak langsung)
2).Memberikan development effect terhadap kegiatan industry dalam negeri di sekitas usaha modal asing(linkward effect) baik yang bersifat forward effect maupun backward effect.
3). Kesempatan kerja bagi penduduk
Investasi Asing Pemerintah penggunaannya bebas menurut kehendak Negara peminjam. Badan-badan internasional yang memberikan pinjaman, macam ini misalnya IBRD yang terkenal dengan nama Bank Dunia.
F.      MASALAH-MASALAH PEMBANGUNAN
1.   Kemiskinan
Negara-negara berkembang telah jatuh ke dalam lingkaran setan kemiskinan, Nurkse mengatakan : menempatkan suatu Negara miskin terus menerus dalam suasana kemiskinan, misalnya simiskin mungkin tidak cukup makan, karena kurang makan, maka kesehatannya menjadi lemah, kelemahan fisiknya menyebabkan bahwa ia tidak cukup makan lagi, dan seterusnya.
Dasar lingkaran setan ini berasal dari fakta bahwa di dalam Negara-negara berkembang produktivitas total adalah rendah karena kekurangan modal, ketidak sempurnaan pasar, keterbelakangan ekonomi. Produktivitas yang rendah terlihat dalam rendahnya pendapatan rill, Tingkat pendapatan rill yang rendah berarti tingkat seving rendah, mengakibatkan tingkat investasi yang rendah dan  kekuarangan modal. Dan sebaliknya kekurangan modal menyebabkan tingkat produktivitas yang rendah dengan demikian lengkaplah sudah lingkaran setan itu dari segi supply.
Lingkaran setan lain menguatkan dan berjalan bersama dengan lingkaran setan diatas, dari segi demand lingkaran itu adalah sebagai berikut : Tingkat pendapatan rill yang rendah mengakibatkan rendahnya permintaan dan sebaliknya menyebabkan rendahnya tingkat investasi dan karena itu menimbulkan lagi kekuarangan modal dan produktivitas rendah.
 Lingkaran setan yang ketiga terdapat dalam keterbelakangan sumber-sumber alam dan manusia. Penyumbangan sumber alam tergantung pada kapasitas produkstif rakyat Negara itu, jika penduduk terkebelakang dan buta huruf, sehingga tidak memiliki keterampilan teknis, pengetahuan dan kewiraswastaan, maka sumber alam tetap tidak dimanfaatkan/kurang dimanfaatkan, sebaliknya secara ekonomis terkebelakang karena sumber-sumber alam tidak dikembangkan, karena sumber-sumber alam tidak dikembangkan, karena sumber alam tidak/kurang dikembangkan merupakan hal kurang baik sebagai konsekwensi maupun sebab dari rakyat yang terkebelakang.
 Jadi kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi adalah sama sebuah Negara adalah miskin karena Negara itu terkebelakang. Sebah Negara terkebelakang karena Negara itu miskin dan tetap terkebelakang, karena Negara itu memiliki sumber yang terkutuk tetapi kutukan yang lebih pedas adalah bahwa kemiskinan bersifat kekal. Dalam memperoleh gambaran secara garis besar atas masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan di Negara-negara berkembang. Kita telah memahami bahwa perpaduan tingkat pendapatan perkapita yang rendah dan distribusi yang sangat tidak merata akan menghasilkan kemiskinan absolute, pemahaman terhadap kadar dan jangkauan distribusi pendapatan merupakan landasan dasar bagi setiap analisis masalah kemiskinan di Negara-negara yang berpendapatan rendah.
Salah satu generaliasi(anggapan sederhana) yang paling sahih mengenai penduduk miskin adalah bahwasanya mereka pada umumnya bertempat tinggal di daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat hubungan dengan sektor tradisional tersebut, sebagai contoh telah diketahui bahwa sekitar dua pertiga penduduk miskin di Negara-negara berkembang masih menggantungkan hidup mereka dari pola pertanian yang subsisten, baik sebagai petani kecil atau buruh tani yang berpenghasilan rendah, selanjutnya sepertiga penduduk miskin lainnya kebayakan juga tinggal di pedesaan dan mereka semata-mata mengandalkan hidupnya dari usaha-usaha jasa kecil-kecilan dan sebagaian kampung kumuh dipusat kota dengan berbagai macam mata pencaharian rendah seperti penyapu jalan, pedagang asongan, kuli kasar dll. Dapat disimpulkan bahwa Negara Afrika dan Asia sekitar 80% hingga 90% kelompok miskin bertempat tinggal di pedesaan, sedangkan di Amerika latin mencapai 50%. Untuk itu kebijakan pemerintah dalam upaya untuk mengurangi kemiskinan harus diarahkan langsung kepada pembangunan desa pada umumnya dan sektor-sektor pertanian pada umumnya. Bukan tercurah ke daerah-daerah perkotaan dan berbagai sektor ekonominya yakni sektor industry modern dan komersial lainnya.

2.   Distrubusi Pendapatan
Badan Riset dan Bank Dunia dan Institute of Development Studies dari Universitas Sussex telah mengadakan usaha bersama untuk mengadakan serentetan analisa mengenai distribusi pendapatan dalam pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang. Di antara analisa tersebut adalah Analisa Ahluwalia yang memberikan gambaran mengenai keadaan distribusi pendapatan. Di beberapa Negara pada beberapa tahun dan pengaruh pembangunan ekonomi terhadap distribusi pendapatan berikut ini diringkaskan hasil-hasil dan studi tersebut.
 Mengenai keadaan distribusi pendapatan di beberapa Negara, analisanya memberikan gambaran mengenai distribusi pendapatan relative maupun distribusi pendapatan mutlak. Yang dimaksud dengan distribusi pendapatan relative adalah perbandingan jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai golongan penerima pendapatan. Dan penggolongan ini didasarkan kepada besarnya pendapatan yang mereka terima. Sedangkan distribusi pendapatan mutlak adalah persentase jumlah penduduk yang pendapatannya mencapai suatu tingkat pendapatan tertentu atau kurang dari padanya.
Untuk menggambarkan distribusi pendapatan relative di beberapa Negara, Ahluwalia menggolongkan penerima-penerima pendapatan dalam tiga golongan yaitu 40 persen penduduk yang menerima pendapatan paling rendah, 40 persen penduduk pendapatan menengah dan 20 persen penduduk berpendapatan paling tinggi. Sebenarnya di beberapa Negara berkembang distribusi pendapatan penduduknya tidak seburuk seperti yang dinyatakan diatas. Dengan membedakan Negara-neghara berkembang menjadi dua golongan yaitu golongan yang distribusi pendapatannya lebih merata dan golongan yang distribusi pendapatannya sangat tidak merata, maka ternyata bahwa gambaran mengenai  distribusi pendapatan di Negara-negara ini sangat berbeda sekali dengan yang dinyatakan diatas. Penyelidikan Ahluwalia menunjukkan bahwa di segolongan Negara-negara berkembang 40 persen penduduk yang berpendapatan paling rendah 18 persen dari keseluruhan pendapatan masyarakat. Dan sebaliknya di segolongan Negara lainnya 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah menerima 9 persen dari keseluruhan pendapatan masyarakat. Jadi ternyata di antara Negara-negara berkembang terdapat Negara-negara yang distribusi pendapatannya lebih baik pada distribusi pendapatan rata-rata di Negara-negara maju. Akan tetapi sebaliknya pula terdapat Negara-negara berkembang yang masalah ketidak merataan pendapatan mereka sangat serius.



3.   Pengangguran
Dalam pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang, pengangguran yang semakin bertambah jumlahnya merupakan masalah yang lebih rumit dan lebih serius dari pada masalah perubahan dalam distribusi pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan rendah. Keadaan di Negara-negara berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi ekonomi tidak sanggup mengadakan kesempatan kerja yang lebih cepat dari pada pertambahan penduduk oleh karenanya masalah pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin lama semakin bertambah serius. Walaupun para ahli ekonomi telah menyadari bahwa masalah pengangguran di Negara-negara miskin  keadaan semakin memburuk.
Pengangguran-pengangguran tersebar diberbagai daerah yaitu mereka terdapat di daerah-daerah urban maupun di daerah pedesaan. Di daerah-daerah pedesaan pengguran yang terjadi biasanya dibedakan dalam dua pengertian: pengangguran tersembunyi dan pengangguran musiman. Pengangguran tersembunyi biasanya diartikan sebagai golongan tenaga kerja yang produktivitasnya batasnya adalah nol atau negative, sehingga walaupun mereka berkerja usaha mereka tersebut tidak akan menaikkan produksi. Sedangkan pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi pada masa-masa tertentu yaitu  pada bulan-bulan di mana kegiatan pertanian atau kegiatan produksi lainnya di daerah pedesaan lebih sedikit dilakukan dibandingkan dengan pada masa-masa lainnya
4.   Bantuan Luar Negeri.
Aliran modal luar negeri dinamakan bantuan luar negeri apabila ia mempunyai dua ciri-ciri berikut: pertama ia merupakan aliran modal yang bukan di dorong oleh tujuan untuk mencari keuntungan dan kedua dana tersebut diberikan kepada Negara penerima atau dipinjamkan dengan syarat-syarat yang lebih ringan dari pada yang berlaku dalam pasar internasional. Berdasarkan dari dua ciri tersebut, aliran modal dari luar negeri yang tergolong sebagai bantuan luar negeri adalah pemberian(grant) dan pinjaman luar negeri(loan) yang diberikan oleh pemerintah Negara-negara maju atau badan-badan internasional yang khusus di bentuk untuk memberikan pinjaman semacam ini, seperti Bank Dunia. Bank Pinjaman Pembangunan Asia dan sebagainya Aliran modal dari luar negeri lainnya yaitu pinjaman dari perusahaan-perusahaan swasta dan badan-badan keuangan swasta dan penanaman modal asing tidaklah memenuhi syarat untuk digolongkan sebagai bantuan luar negeri.
Pemberian merupakan suatu bantuan penuh dari Negara donor kepada Negara penerima. Karena Negara penerima tidak diwajibkan untuk membayar kembali atau melakukan balas jasa lain sebagai imbalan kepada pemberian tersebut. Sedangkan pinjaman luar negeri yang berasal dari pemerintah dan badan-badan internasional yang dijelaskan diatas bukanlah bantuan penuh karena Negara penerima mempunyai kewajiban untuk membayar kembali dan membayar bunga atas pinjaman tersebut. Besarnya unsur bantuan yang terkandung dalam pinjaman Luar negeri terkandung kepada syarat-syarat pembayaran kembali dari bantuan tersebut, yaitu tergantung kepada tenggang waktu(grace priod) dan tingkat bunga dari bantuan yang diberikan. Unsur bantuan yang terkandung dalam suatu pinjaman luar negeri bertambah tinggi dan ia dinamakan sebagai pinjaman bersyarat ringan(soft loan) apabila tenggan waktu bertambah lama, jangka waktu pembayaran kembali bertambah panjang dan tingkat bunganya bertambah rendah. Apabila syarat-syarat tersebut adalah sebaliknya yaitu tenggang waktu dan jangka masa pembayaran kembali adalah relative singkat dan bunga relative tinggi, maka pinjaman luar negeri itu tergolong sebagai pinjaman bersyarat berat(hard loan).
Bentuk syarat-syarat bantuan yang diberikan kepada suatu Negara berkembang tergantung kepada faktor-faktor ekonomi maupun politik, seperti tingkat pendapatan perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, tingkat perkembangan perdagangan luar negeri dari Negara-negara pemberi dan penerima bantuan, jenis bantuan. Oleh karenanya sesuatu Negara donor pada umumnya memberikan syarat-syarat yang berbeda kepada setiap Negara. Walaupun demikian secara umum dapatlah dikatakan bahwa semakin miskin sesuatu Negara dan semakin rumit masalah pembangunan yang dihadapi, semakin ringan syarat-syarat bantuan yang diberikan padanya.

5.   Penanaman Modal Asing.
Dari uraian-uraian terdahulu telah dapat disimpulkan bahwa masalah kekurangan dana untuk pembentukan modal bukan saja dihadapi oleh sektor pemerintah tetapi juga oleh sektor sewasta. Di Negara-negara berkembang kegiatan ekonomi yang dapat diusahakan oleh pihak swasta masih mempunyai kemungkinan untuk berkembang lebih laju lagi apabila tersedia lebih banyak modal dan terdapat kemampuan untuk menggunakan tambahan modal itu secara lebih efektif. Seperti juga dengan yang berlaku disektor pemerintah. Masalah tersebut dapat diatasi dengan memasukkan modal dari luar negeri, terutama dari Negara-negara maju. Walaupun mempunyai peranan yang sama seperti bantuan luar negeri yang diterima oleh sektor pemerintah, modal luar negeri digunakan untuk mengisi kekurangan modal di sektor swasta tidak boleh digolongkan sebagai bantuan luar negeri, ini disebabkan karena syarat-syarat pinjaman swasta dan penanaman modal asing adalah sama dengan yang berlaku di pasar internasional. Apabila modal tersebut berupa pinjaman maka tingkat bunganya adalah tidak berbeda dengan yang berlaku di pasar internasiona. Dan apabila modal tersebut berupa penanaman modal, maka keuntungan yang akan diperoleh adalah bebas untuk dikirim kembali ke Negara-negara asal modal tersebut, yaitu sesuai dengan cara pembayaran keuntungan yang pada umumnya dilakukan atas penanaman modal asing di Negara-negara maju. Berdasarkan kepada hal ini dapatlah dikatakan bahwa pada umumnya pihak swasta dinegara-negara maju meminjamkan dan menanaman modalnya ke Negara-negara berkembang bukan atas dasar keinginan untuk memberi bantuan tetapi untuk memperoleh keuntungan dari padanya. Oleh karena aliran modal tersebut, walaupun membantu Negara-negara berkembang mengatasi masalah kekurangan tabungan dan mata uang asing berarti memegang peranan yang sama seperti bantuan luar negeri, tidak dapat dipandang sebagai bantuan luar negeri. Berdasarkan kepada sifat-sifatnya, modal asing swasta yang mengalir dari Negara-negara maju ke Negara-negara berkembang dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu Penanaman modal langsung(direct foreign investment), Penanaman modal portofolio(portofolio investment) dan Pinjaman eksport(export credit).



6.   Pemerataan Pembangunan
Pembangunan Ekonomi Indonesia pada era Orde Baru, sebagai suatu kebijaksanaan pemerintah pada saat itu, untuk mencapai pemerataan pembangunan ekonomi Indonesia, ditetapkan langkah-langkah dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan ekonomi menurut jalur-jalur yang disebut “Trilogi Pembangunan” yaitu:
§  Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
§  Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
§  Terpeliharanya Stabilitas ekonomi yang makin mantap dan dinamis.
Pemerataan pembanguna dan hasil-hjasilnya diusahakan dalam pencapaian antara lain melalui “Delapan Jalur Pemerataan” yaitu :
§  Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan sandang dan Papan(Perumahan).
§  Pemerataan pembangian pendapatan.
§  Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
§  Pemerataan kesempatan kerja
§  Pemerataan kesempatan berusaha
§  Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan wanita.
§  Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air
§  Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Dengan pemerataan ini ditujukan untuk terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Dan tercapainya kesejahteraan bagi seluruh rakyat bangsa Indonesia.

7.   Dualisme dalam beberapa Aspek Kegiatan Ekonomi
Sebelum Peran Dunia ke II, Perekonomian di Negara-negara berkembang, suatu keadaan dimana perkembangannya tidak mengalami perkembangan yang diharapkan untuk dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terus menerus. Pembangunan ekonomi di Negara-negara berkembang, mengalami masalah karena timbulnya beberapa jenis dualisme yaitu kegiatan-kegiatan ekonomi atau keadaan ekonomi tidak mempunyai sifat yang seragam, secara tegas dualisme tersebut dibedakan dalam dua golongan.
1).Kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi yang masih dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat tradisional.
2). Berbagai kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi yang dikuasai oleh unsur-unsur
     yang bersifat modrn.
Berdasarkan sifat dari keadaan dualisme, maka kita kenal jenis-jenis dualisme :
1.      Dualisme Sosial, yaitu di dalam masyarakat mungkin terdapat dua sitem sosial yang berbeda, misalnya sistem sosial yang berasal dari luar(import) dan juga berlaku sistem sosial pribumi.
2.      Dualisme Teknologi yaitu, suatu keadaan dimana di dalam suatu bidang kegiatan ekonomi tertentu digunakan teknik memproduksi dan organisasi produksi yang sangat berbeda coraknya sehingga mengakibatkan perbedaan produktivitas.
3.      Dualisme Financial, yaitu dinegara berkembang, di dalam masyarakat terdapat dua golongan yaitu terdapat pasar uang yang memiliki organisasi dan terdapat pula pasar yang tidak terorganisir.
4.      Dualisme Regional, yaitu Keadaan di dalam masyarakat adanya ketidak seimbangan diantara tingkat pembangunan di berbagai daerah dalam suatu Negara
.
G.    PERTUMBUHAN DAN PEMERATAAN PEMBANGUNAN
Dalam dasawarsa 1970 an diawali oleh perdebatan sengit antara kelompok “Growth” dan kelompok “Equity” yang terakhir ini memperlihatkan kekecewaan yang bermunculan akibat pembangunan yang terlalu GNP-oriented, Ternyata dalam pertumbuhan ekonomi sendiri tidak memberi pemecahan mengenai masalah kemiskinan di Negara-negara sedang berkembang, justru memperlebar jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin. Dan timbullah konsep Garis Kemiskinan(Poverty line) yang menunjukkan batas terendah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Mereka dikatakan beradah di bawah garis kemiskinan(absolute poverty) apabila pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Kemudian karena biaya hidup di daerah kota dan di pedesaan berbeda demikian juga antara kelompok-kelompok masyarakat di dalamnya, maka oleh bank Dunia dipakai sebagai ukuran dalam menetapkan garis kemiskinan adalah nilai US $ 50 perkapita setahun untuk tingkat pedesaan dan US $75 perkapita setahun untuk tingkat pendapatan di kota pada keadaan hartga 1971.
Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi.
Rostow, mencetuskan teori pertumbuhan ekonomi yang pada permulaannya dikemukakan sebagai suatu artikel dalam Economic Journal yang kemudian dijadikan buku yangb berjudul “The Stages Of Economic Growth”, menurut Rostow proses pembangunan ekonomi dapat dibedakan dalam 5(lima) tahap yaitu :
1.    Masyarakat tradisional ( the traditional society)
2.    Prasyarat untuk lepas landas ( the precondition for take-off)
3.    Lepas ladas (the take off)
4.    Gerakan kearah kedewasaan (the drive to maturity)
5.    Masa konsumsi tinggi(the age of hight maas consumption)
Analisas Rostow menitik beratkan kepada pembahasan yang didasarkan kepada pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi sebagai akibat timbulnya perubahan yang fundamental yang terjadi dalam kegiatan ekonomi maupun dalam kehidupan politik dan hubungan social dalam suatu masyarakat.
Teori Lewis, menganggap bahwa di banyak Negara berkembang terdapat tenaga kerja yang belebihan, tetapi terdapat kekurangan modal. Dengan adanya tenaga yang berlebihan tersebut maka walaupun dari sebagian tenaga kerja itu dipindahkan ke sektor lain, tidak akan berakibat menurunnya produksi. Analisis Lewis dapat dibedakan dalam tiga aspek :
1.    Analisa tentang corak proses pertumbuhan
2.    Analisasa tentang faktor utama yang memungkinkan tingkat penanaman modal menjadi bertambah tinggi.
3.    Analisa tentang faktor-faktor yang menyebabkan porses pembangunan tidak berlaku seperti apa yang digambarkan(coraknya berubah)
Dalam analisanya Lewis menggunakan pandangan yang dikemukakan oleh teori klasik:
1.    Para pengusaha selalu mencari keuntungan yang maksimum.
2.    Pandangang tersebut poin 1, akan mencapai apabila tingkat upah sama besarnya dengan tingkat produksi batas(marginal product).
3.    Penawaran tenaga kerja lebih besar dari pada yang diperlukan(tingkat upah tidak akan mengalami perubahan).
Teori Pertumbuhan Ekonomi Ranis & Fei adalah sama dengan teori Lewis. Teori Ranis&Fei adalah teori pembangunan yang dimaksudkan untuk Negara-negara berkembang, yang disatu pihak menghadapi masalah kelebihan jumlah penduduk sehingga menghadapi masalah pengangguran yang serius dan dilain pihak kekayaan alam yang tersedia yang dapat dikembangkan adalah terbatas. Sedangkan analisa Ranis & Fei sifatnya lebih seimbang dan bahkan dapat terjadi di sektor pertanian, Secara keseluruhan analisa Rani&Fei lebih lebih mendalam dari pada analisa Lewis. Model pembangunan ekonomi Ranis&Fei bukan saja secara lebih terperincih menunjukkan pengaruh dari perubahan dari perubahan produktivitas tenaga di sektor Kapitalis, akan tetapi juga menunjukkan akibat kemajuan tingkat produktivitas disektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi yang akan terjadi.
Ranis&Fei juga menunjukkan pengaruh pertambahan penduduk terhadap proses pembangunan yang akan berlaku, pengaruh sistim pasar terhadap interaksi di antara sektor pertanian dan industry, dan jangka masa(life eyele) dari berlakunya proses pembangunan untuk mencapai tarap Negara industry. Teori pembangunan ekonomi Kaum Klassik dalam garis besarnya adalah sebagai berikut:
1.    Tingkat perkembangan suatu masyarakat sangat tergantung dari :
a.    Jumlah penduduk,
b.    Jumlah stock alat-alat modal.
c.    Luas tanah,
d.   Tingkat teknologi.
2.    Pendapatan nasional suatu masyarakat dibedakan menjadi “ Upah, Keuntungan Pengusaha dan Sewa Tanah”
3.    Kenaikan upah akan menyebabkan pertambahan penduduk.
4.    Pembentukan modal ditentukan oleh tingkat keuntungan.
5.    Hukum hasil lebih yang makin berkurang berlaku untuk segala kegiatan ekonomi.
Ahli-ahli ekonomi Klasik terutama hendak menganalisa sebab-sebab dari pertambahan pendapatan nasional jangka panjang dan proses yang mengakibatkan bertambahnya pendapatan nasional. Dari para ahli yaitu :
1.   Adam Smith. Menurut beliau untuk terjadinya/berlangsungnya perkembangan ekonomi diperlukan adanya spesialisasi atau pembagian kerja(division of labour), sehingga dengan demikian produktivitas tenaga kerja akan bertambah.
2.   David Ricardo, menganggap bahwa sektor pertanian merupakan suatu sektor perekonomian yang paling penting. Sukarnya menyediakan makanan bagi penduduk yang selalu bertambah merupakan persoalan pokok dalam sistimnya John Stuart Mill, tidak menghargai peranan kemajuan teknologi dalam memperbesar produktivitas di sektor pertanian. Menurut Ricardo, dalam masyarakat ekonomi terdapat tiga pelaku yaitu : (1). Kaum Kapitalis, (2). Kaum pekerja dan (3).Tuan Tanah, Kaum Kapitalis mempunyai dua fungsi penting.
1.      Terus menerus mencari kemngkinan yang paling menguntungkan bagi kapitalnya. Sehingga dia berusaha untuk mengalokasikan sumber-sumber yang efesien pada suatu waktu tertentu.
2.      Kaum kapitalis memulai proses perkembangan ekonomi (mereka menginvestasikan kembali laba yang diperoleh).
Sesuai dengan golongan yang di dalam masyarakat, Ricardo membagi “Pendapatan Nasional, menjadi 3(tiga) bagian yaitu (1).Upah, (2).Sewa dan(3) Keuntungan., Analisa selanjutnya membahas mengenai bagian manakah yang paling besar sumbangannya terhadap pendapatan nasional atau perkembangan ekonomi. Ricardo membedakan antara penerimaan(revenue) bruto dan netto. Penerimaan beruto adalah nilai pasar dari barang-barang akhir yang dihasilkan selama suatu priode waktu tertentu. Pendapatan netto adalah penerimaan bruto dikurangi dengan nilai barang-barang yang diperlukan untuk mempertahankan tenaga buruh yang menghasilkan output.
3.    Karl Marx, yang memegang peranan penting dalam proses perkembangan ekonomi adalah “nilai lebih” (surplus value). Kelebihan ini dimiliki oleh kapitalis dalam bentuk keuntungan bersih, bunga dan sewa. Nilai lebih ini dapat diperoleh dengan menaikkan produktivitas buruh, yaitu dengan mengubah tekhik produksi. Perbaikan teknik akan memperbesar jumlah output yang dihasilkan oleh sejumlah buruh, jadi technological progress merupakan faktor penting sekali bagi perkembangan. Dengan teknik yang lebih baik keuntungan dapat meningkatkan, kemudian diinvestasikan. Tetapi hal ini tidak mungkin berjalan secara terus menerus secara otomatis, sehingga perkembangan ekonomi kapitalis akan macet dan bahkan mengalami kehancuran.
4.    Ahli-Ahli Ekonomi Neo-Klasik, para ahli Neo-Klasik beranggapan bahwa dengan suatu keadaan teknologi tertentu, produktivitas marginal dari capital berkurang dengan terjadinya akumulasi capital semacam ini. Tingkat bunga, tingkat pendapatan menentukan tingkat tabungan.

Pengertian yang lebih lengkap tentang pemikiran Neo-Klasik dapat diperoleh dengan membahas tiga gagasan yang saling berhubungan dalam pandangan mereka.
1.       Mereka menganggap pembangunan itu sebagai suatu proses yang berangsur angsur(gradual), yang terus-menerus(continue) <Alfres Marshall>
2.       Mereka menekankan sifat selaras(harmonius) dan komulatif dari prose situ.
3.       Mereka pada umumnya optimis terhadap kamungkinan adanya kemajuan ekonomi yang terus menerus. Optimism itu didasarkan atas dua faktor penting yaitu(a). Keyakinan bahwa kemajuan teknologi yang berjalan terus akan selalu membuka prospek-prospek investasi baru yang sangat menguntungkan. (b). Mereka menduga bahwa setiap penurunan kecil dalam tingkat bunga akan membuat jumlah besar prospek investasi menjadi menguntungkan.
Analisis mereka mengenai produksi digandengkan dengan suatu konsep yang di introduksi oleh Marshall, yaitu external economiec. Dengan istilah internal dan external economies. Marshal membedakan antara keuntungan-keuntungan economiec yang timbul karena bertambahnya skala produksi yang tergantung pada sumber-sumber dan efesiensi masing-masing badan usaha(firm) dan keuntungan-keuntungan yang tergantung pada perkembangan umum dari industry badan usaha itu sendiri atau industry-industri lainnya  yang menjadi sumber dari bahan-bahan yang dibutuhkan.
Internal economiec adalah keuntunngan yang timbul karena diintroduksinya mesin-mesin yang lebih kompleks, bertambah baiknya organisasi kegiatan-kegiatan pemasaran (marketing) dan penelitian, bertambah luasnya spesialisasi tenaga kerja dan manajemen dan sebagainya, dengan bertambahnya skala pekerjaan sesuai badan usaha, menurut Marshall external economiec tergantung pada keseluruhan volume produksi yang ada disekitarnya. External economiec juga timbul karena perkembangan dari cabang-cabang industry yang saling berhubungan yang satu sama lain saling membantu mungkin karena dipusatkan dalam tempat-tempat yang sama.
 Jadi Marshall menitik beratkan sifat saling tergantung(independent) dan sifat saling melengkapi(complementary) dari perekonomian. Dengan berkembangnya suatu industry disuatu daerah, maka hali ini menarik tenaga-tenaga yang terlatih baik. Tingkat kemajuan teknologi dalam industry itu bertambah karena adanya kesempatan-kesempatan yang lebih baik untuk saling menukar pengetahuan. Perkembangan itu juga mendorong pertumbuhan lain-lain industry untuk mengerjakan hasil-hasil sampingan (by products), untuk mensupplier alat-alat dan untuk memberikan fasilitas-fasilitas bagi pengangkutan dan komunikasi yang dibutuhkan.
Akibat-akibat yang memantul(repercussions) yang beraneka ragam minimal memperbaiki prospek-prospek laba bagi badan-badan usaha yang ada dalam industry tadi dan mendorong pekembangan lebih lanjut yang juga mempunyai akibat-akibat expansioner yang lebih lanjut lagi terhadap sektor-sektor lainnya.

H.    TEORI PERTUMBUHAN SCHUMPETER
Joseph Alois Schumpeter pertama kali menyajikan teorinya mengenai pertembuhan ekonomi dalam buku Theory of Economic Development yang diterbitkan  di Jerman pada tahun 1911 (edisi Inggeris tahun 1934) buku ini diteliti kembali dan direvisi tanpa mengadakan perobahan esensiel dan diterbitkan dalam “Business Cycles” (1939) dan Capitalism, Socialism and Democracy”(1942)
 Schumpeter berpangkal dari asumsi mengenai perekonomian yang bersifat persaingan sempurna yang berada dalam keseimbangan stabil. Dalam keadaan stabil seperti itu terjadi keseimbangan persaingan sempurna: tidak ada laba, tingkat bunga, tabungan, investasi daninvoluntary unemployment. Keseimbangan itu dibandingkan dengan apa yang disebut Schumpeter The Circular Flow” yang berlangsung sama terus menerus dari tahun ke tahun seperti seperti peredaran darah dalam organism binatang. Kata  Schumpeter” Arus sirkulasi itu merupakan suatu arus yang bersumber dari tenaga kerja dan tanah, dan mengalir dalam setiap priode ekonomi ke reservoir yang kita sebut pendapatan, dengan tujuan dirubag menjadi pemuas kebutuhan. Arus sirkulasi itu mengalami perubahan spontan dan discontinue gangguan keseimbangan yang untuk selanjutnya merobah dan menggantikan keadaan equilibrium yang terjadi sebelumnya. “Perubahan-perubahan spontan dan discontinue ini dalam kehidupan ekonomi tidak dipaksakan dari luar tetapi timbul melalui mekanismenya sendiri. Dan Nampak dalam bidang kehidupan industry dan komersiel.
Pembangunan merupakan usaha penciptaan kombinasi-kombina baru berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam keadaan stabil. Kombinasi baru terjadi dalam bentuk innovasi. Dan Innovasi terdiri atas :
1.    Usaha memperkenalkan barang baru.
2.    Memperkenalkan metode produksi baru.
3.    Pembukaan pasar baru.
4.    Pencarian sumber baru untuk persediaan bahan mentah dan atau barang-barang setengah jadi.
5.    Pemunculan organisasi industry yang baru, seperti penciptaan monopoli.

Perananan Innovator, adalah wiraswastawan. Seorang wiraswastawan bukan lah seorang dengan kemampuan managerial biasa melainkan seorang yang memperkenalkan sesuatu yang sama sekali baru. Ia tidak menyiapkan dana tetapi mengerahkan dana itu. Ia didorong oleh :
a.       Kehendak untuk membangun kekuasaan komersial pribadi.
b.      Kemauan untuk mendapatkan dan menonjolkan superrioritasnya.
c.       Keasyikan menciptakan dan mengusahakan terlaksananya sesuatu, atau hanya karena menyalurkan energy dan bakatnya.

Sifat dan kegiatannya ditentukan oleh lingkungan social kulturir agar dapat menjalankan fungsinya dalam ekonomi, ia membutuhkan dua hal :
1.      Adanya pengetahuan teknis untuk menghasilkan produk baru.
2.      Kekuatan mengatur factor-faktor produksi dalam bentuk kredit.
Menurut Schumpeter, suatu cadangan pengetahuan teknis yang belum disadap(untapped) harus ada untuk dapat digunakan. Karena itu kredit sangat penting untuk memulai pembangunan. Sebagai kesimpulan, tingkat pembangunan suatu perekonomian merupakan fungsi perobahan persediaan pengetahuan teknis yang dipakai dalam masyarakat. Tingkat penyempurnaan teknik-teknik produksi tergantung pada tingkat kewiraswastaan yang diatus oleh besarnya keperluan akan wiraswastawan-wiraswastawan baru daan penciptaan kredit.
Analisis Schumpeter dan Negara-negara Berkembang.
Teori-teori Schumpeter harus dimasukkan dalam urutan karya utama, seperti ahli ekonomi terkenal lainnya. Smith,n Ricardo, Mill Marx, Marshall dan Keynes. Tidak diragukan lagi karya itu penuh dengan penilaian dan pemahaman beriliant dari seseorang teoritikus yang besar. Namun aplikasinya bagi Negara berkembang terbatas.
1.    Susunan Sosio ekonomi yang berbeda. Teori Schumpeter berhubungan dengan sosio ekonomi tertentu yang berlangsung di Eropah Barat dan Amerika pada abad 18 dan 19, dalam priode itu beberapa prasyarat pertumbuhan sudah terjadi dalam Negara berkembang, keadaan-keadaan sosio ekonomi sama sekali berbeda dan prasyarat bagi pembangunan dalam bentuk economic  and social overheads belum ada.
2.    Kekurangan Kewiraswastaan. Analisa Schumpeter berdasar pada eksistensi golongan  kewira swastaan. Tetapi dalam Negara-negara berkembang kewiraswastaan yang tepat itu kurang. Dalam perekonomian seperti itu, laba yang diharapkan rendah dan keadaan teknologi rendah yang tidak mendorong investasi innovasionil dalam pabrik dan perlengkapan yang baru. Apalagi kekurangan kekuatan yang tepat, pengangkutan, tenaga trampil dan sebagainya, tidak merangcang kegiatan kewiraswastaan.
3.    Tidak dapat diterapkan pada Negara sosialis. Analisa Schumpeter tidak dapat diterapkan pada mayoritas Negara berkembang yang mempunyai ideology misalnya, penggunaan ukuran-ukuran social dan pajak pendapatan progresif yang tinggi berlawanan dengan pengembangan golongan wiraswastawan, karena mereka akan mengurangi laba.
4.    Tidak dapat diterapkan dalam ekonomi campuran. Innovator dari Schumpeter adalah wiraswastawan yang tidak cocok diterapkan dalam ekonomi campuran. Dalam sebuah Negara yang sedang berkembang, pemerintah adalah entrepreneur penggerak pembangunan datangnya dari sector pemerintah dan semi pemerintah. Jadi Schumpeter’s innovator mempunyai peranan yang terbatas di Negara-negara yang sedang berkembang.
5.    Perubahan-perubahan institusionil dan bukan innovasi yang diperlukan. Untuk memulai proses pembangunan dan membuatnya self sustaining bukan hanya innovasi melainkannya kombinasi beberapa factor seperti struktur organisasi, peraktek bisnis, tenaga trampil dan nilai-nilai tepat sikap dan motivasi-motivasi.
6.    Assimilasi innovasi. Menurut Henry Wallich,, proses pembangunan di Negara yang sedang berkembang didasarkan bukan pada inovasi melainkan pada assimilasi innovasi yang ada. Karena para wiraswastawan di Negara-negara berkembang tidak berada dalam posisi untuk mengadakan innovasi agaknya, mereka mengambil alih innovasi yang terjadi dinegara-negara maju.
7.    Mengabaikan Konsumsi. Proses Schumpeterian bersifat production oriented sedangkan proses pembangunan merupakan concumtion oriented. Penilaian ini berdasarkan trent yang sedang berlaku kea rah the welfare state dimana permintaan dan konsumsi memainkan peranan penting.
8.    Mengabaikan Tabungan. Tekanan eksklusif pada kredit bank mengabaikan peranan tabungan riil dalam investasi. Tekanan itu mengurangi pula pentingnya difisit financing, budgetary saving, public credit, dan ukuran-ukuran fiscal lain dalam pembangunan ekonomi.
9.    Mengabaikan pengaruh-pengaruh Extern. Menurut Schumpeter, pembangunan merupakan hasil perubahan-perubahan yang timbul dari dalam perekonomian. Tetapi dalam Negara berkembang perubahan-perubahan tidak ditimbulkan oleh factor intern perekonomian, melainkan lebih ditentukan oleh penngaruh ide-ide, teknologi dan capital yang didatangkan dari luar. Teknologi yang terbelakang, kemampuan menabung yang rendah, lembaga-lembaga politis ekonomi dan social yang ketinggalan jaman tidak mampu mendorong pembangunan dari dalam.
10.          Mengabaikan pengaruh pertambahan penduduk dan kekayaan. Apalagi Schumpeter tidak mempertimbangkan pengaruh pertambahan penduduk dan kekayaan atas pembangunan ekonomi suatu Negara. Tingkat pertambahan penduduk yang tinggi akan merendahkan tingkat pertumbuhan ekonomi Negara berkembang, sedangkan penemuan-penemuan sumber-sumber baru kekuayaan alam atau penggunaan kekayaan itu secara lebih baik akan mempercepat derap pembangunan.

PERBANDINGAN ANTARA TEORI PERTUMBUHAN KLASIK  DAN NEO KLASIK
Dalam sejarah pemikiran ekonomi penulis-penulis ekonomi diantara bahagian kedua abad 18 dan permulaan abad keduapuluh ini lazim digolongkan sebagai kaum Klasik.
Kaum Klasik, merupakan ahli-ahli ekonomi yang mengemukakan analisanya sebelum tahun 1870, yaitu Adam Smit, David Ricardo, Robert Malthus dan John Stuart Mill.
Kaum Neo Klasik antra lain adalah Alfred Marshall, Leon Walras dan Knut Wicksel, Teori tersebut baru mulai dikemukakan pada tahun 1950-an, jadi hampir bersamaan dengan berkembangnya perhatian ahli-ahli ekonomi terhadap masalah-maslah pembangunan di Negara-negara berkembang. Teori pertumbuhan yang utama yang sudah dikemukakan pada masa sebelumnya adalah teori pertumbuhan ahli-ahli ekonomi klasik, teori Schumpeter mengenai pembangunan ekonomi dan teori Harrod-Domar.
1.      Teori Pertumbuhan Klasik, diambil dasar dari Teori Pertumbuhan Adam Smith mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistimatis, agar inti dari proses pertumbuhan ekonomi mudah dipahami, maka dibedakan dua aspek utama yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk.
2.      Teori Pertumbuhan Neo-Klasik, berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai panadangan ekonomi klasik, menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan factor-faktor produksi(penduduk, tenaga kerja dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknilogi. Pandangan ini didasarkan kepada anggapan yang mendasari analsis klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain sampai dimana perekonomian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi capital dan kemajuan teknologi.

Selain dari pada itu dalam memberikan perbandingan antara  Teori pertumbuhan klasik dengan neo-klasik. Pemikiran kaum klasik bahwa perekonomian secara makro akan tumbuh dan berkembang apabila perekonomian diserahkan kepada pasar. Sedangkan kaum neo klasik merupakan oposisi dari pemikiran Keynes. Salah satu pemikiran neo-klasik adalah Washinton consensus, peran pemerintah dibatasi dengan mengasumsikan bahwa ada tangan yang terlihat (invisible hand) menrut Adam Smith yang mengatur ekonomi. Inti dari teori ekonomi klasik adalah kemakmuran dapat dicapai bila pasar dibiarkan berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri, tanpa campur tangan pemerintah. Tentunya segala macam teori yang mendukung adanya campur tangan pemerintah terhadap pasar akan bertentangan dengan pandangan klasik.
Teori pertumbuhan Neo-klasik melihat dari sudut pandangan yang berbeda yaitu dari segi penawaran. Dimana factor-faktor produksi yang dianggap sangat berpengaruh terhadap penambahan output adalah tenaga kerja dan modalkerja. Salah satu perbedaannya adalah peran pemerintah dalam pembangunan, ajaran klasik menyakini bahwa peran pemerintah dalam perekonomian harus dibatasi, pemerintah berperan dalam penyediaan infrastruktur dan penjamin keamanan, sebaliknya Keynes berpendapat ekonomi harus di dorong oleh Pemerintah.

RITIK KUZNETS TERHADAP TEORI ROSTOW
Banyak kritik telah dikemukakan terhadap teori Rostow. Salah satu pengkritiknya yang utama adalah Kuznets. Dengan menunjukkan beberapa sifat-sifat yang diperlukan agar sesuatu teori tahap-tahap pertumbuhan  ada manfaatnya. Kuznets menunjukkan bahwa teori Rostow hanya memiliki sebahagian kecil saja dari sifat-sifat tersebut. Menurut Kuznets, teori mengenai tahap-tahap pertumbuhan ekonomi perlu ditanggapi dengan serius hanya apabila dipenhi beberapa syarat berikut : Setiap tahap harus merupakan tahap yang mempunyai cirri-ciri yang secara empiris dapat diselidiki kebenarannya; cirri-ciri dari setiap tahap harus cukup nyata bedanya dengan tahap lainnya; hubungan analisis dengan tahap sebelumnya harus dijelaskan yaitu bentuk-bentuk proses yang akan berlaku untuk mengakhiri sesuatu tahap tertentu dan menyebabkan terciptanya tahap selanjutnya harus ditunjukkan; hubungan analisis dengan tahap berikutnya juga harus dijelaskan dan ruang lingkup(universe) dalam mana teori tersebut berlaku harus dengan tegas dinyatakan.
Menurut Kuznets, Perbedaan diantara berbagai tahap dalam teori Rostow sangat kabur. Tahap prasyarat untuk mencapai lepas landas dan tahap lepas landas sangat sukar dibedakan karena beberapa cirri-ciri yang dinyatakan terdapat dalam tahap lepas landas sudah berlaku pada tahap sebelumnya.Rostow menyatakan bahwa perkembangan dan kenaikan produktivitas sector pertanian dan perkembangan prasarana akan berlaku pada tahap prasyarat untuk lepasa landas. Hah ini hanya mungkin berlaku apabila tingkat penanaman modal meningkat dengan cepat yang dinyatakan oleh Rostow sebagai salah satu cirri penting pada tahap lepas landas sudah berlaku pada masa sebelmnya.
Kuznets juga mengkritik kegagalan Rostow dalam menyatakan ruang lingkup di dalam mana teorinya berlaku yaitu dalam masyarakat yang bagaiman teorinya berlaku. Walaupun tidak dinyatakan sebenarnya hal ini tidak sukar untuk diterka. Dengan mudah dapat disimpulkan dari analisas Rostow bahwa walaupun teoorinya tersebut disasarkan kepada pembangunan yang berlaku dinegara-negara maju, teori tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan tahap-tahap pembangunan ekonomi yang akan dilalui oleh Negara-negara berkembang. Aspek yang lebih penting dari kritik Kuznets terhadap teori Rostow adalah mengenai terbatasnya cirri-ciri dari teori tersebut yang dapat diselidiki kebenarannya secara empiris. Menurut Kuznets sebagaian besar dari cici-ciiri dalam setiap tahap pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan oleh Rostow tidak mudah untuk diuji secara empiris, dan untuk yang dapat diselidiki, kenyataan yang diperoleh sangat berbeda dengan yang digambarkan oleh Rostow. Dalam tahap lepas landas, satu-satunya cirri yang dapat diuji secara empiris adalah kenaikan tingkat penanaman modal dari 5 % menjadi 10 persen. Data tingkat penanaman modal dibeberapa Negara barat pada waktu mereka mencapai tahap lepas landas menunjukkan bahwa tingkat penanaman modal tidak mengalami pertumbuhan selaju seperti yang digambarkan oleh Rostow, yaitu tingkatnya meningkat menjadi 2(dua) kali lipat sepanjang masa lepas landas.

I.       TEORI HARROD-DOMAR
Teori pertumbuhan Harrod-domar dikembangkan oleh dua orang ahli ekonomi sesudah Keynes, yaitu Evsey Domar dan R.F.Harrod. Domar mengemukakan teorinya tersebut untuk pertama kalinya tahun 1947 dalam  American Ekonomic Review, sedangkan Harrod telah mengemukakannya pada tahun 1939 dalam Economic Journal, maka pada hakekatnya teori tersebut sebenarnya dikembangkan oleh kedua-dua ahli ekonomi itu secara bersaingan, terapi karena inti dari teori tersebut sangat bersamaan, maka dewasa ini ia dikenal sebagai teori Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar ini merupakan perluasan dari Analisa Keynes mengenai kegiatan ekonomi nasional dan masalah penggunaan tenaga kerja. Analisa Keynes dianggap kurang lengkap karena tidak menyinggung persoalan mengatasi masalah-masalah ekonomi di dalam jangka panjang. Analisa yang dibuat Harrod dan Domar bertujuan untuk menutupi kelemahan ini. Teori tersebut pada khakekatnya menganalisa mengenai persoalan berikut; “ Syarat-syarat apakah atau  keadaan yang  bagaimanakah yang tercipta dalam perekonomian untuk menjamin agar dari masa ke masa kesanggupan memproduksi yang selalu bertambah sebagai akibat dari penanaman modal akan selalu sepenuhnya digunakan? Dengan perkataan lain teori Harrod-Domar pada hakekatnya berusaha untuk menunjukkan syarat yang diperlukan agar pertumbuhan yang mantap atau steady growth – yang didefinisikan sebagai Pertumbuhan yang akan selalu menciptakan penggunaan sepenuhnya alat-alat modal – akan selalu berlaku dalam perekonomian.
Harrod dan Domar tetap mempertahankan pendapat dari ahli-ahli ekonomi yang terdahulu yang menekankan tentang peranan pembentukan modal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tetapi berbeda dengan pandangan kaum Klasik dan Keynes, yang memberikan perhatian pada satu aspek saja dari pembentukan modal, teori Harrod-Domar menekankan kedua aspek dari  pembentukan modal, menurut pendapat kaum Klasik pembentukan modal merupakan suatu pengeluaran yang akan menambah kesanggupan sesuatu masyarakat untuk menambah produksi. Bagi kaum Klasik pembentukan modal adalah pengeluaran yang akan mempertinggi jumlah alat-alat modal dalam masyarakat. Kalau kesanggupan tersebut bertambah, maka dengan sendirinya produksi dan pendapatan nasional akan bertambah tinggi dan pembangunan ekonomi akan tercipta. Keadaan ini akan terjadi karena, seperti telah dijelaskan dalam sebelumnya, kaum klasik berpendapat bahwa “Supply creates its own demand” berarti bertambahnya alat-alat modal yang terdapat dalam masyarakat akan dengan sendirinya menciptakan pertambahan produksi nasional dan pembangunan ekonomi. Karena adanya keyakinan tersebut kaum klasik tidak memberikan perhatian, kepada fungsi kedua dari pembentukan modal dalam perekonomian yaitu untuk mempertinggi tingkat pengeluaran masyarakat.
Keadaan yang sebaliknya terdapat dalam analisa Keynes yaitu ia mengabaikan sama sekali peranan pembentukan modal sebagai pengeluaran yang akan mempertinggi kesanggupan sektor produksi untuk menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat. Dalam Analisa Keynes perhatian lebih ditekankan  kepada masalah kekurangan pengeluaran masyarakat, karena ia menganggap tingkat kegiatan ekonomi ditentukan oleh tingkat pengeluaran seluruh masyarakat dan bukan kepada kesanggupan alat-alat modal untuk memproduksikan barang-barang. Oleh sebab itu dalam menganalisa mengenai penanaman modal, kegiatan tersebut terutama dipandang sebagai tindakan untuk memperbesar pengeluaran masyarakat.
Teori Harrod-Domar, memperhatikan kedua-dua fungsi dari pembentukan modal tersebut dalam kegiatan ekonomi. Dalam teori Harrod-Domar pembentukan modal dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kesanggupan sesuatu perekonomian untuk menghasilkan barang-barang, maupun sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan efektif seluruh masyarakat. Teori tersebut menunjukkan suatu kenyataan yang diabaikan dalam analisa Keynes, yaitu apabila suatu masa tertentu dilakukan sejumlah pembentukan modal, maka pada masa berikutnya perekonomian tersebut mempunyai kesanggupan yang lebih besar untuk menghasilkan barang-barang. Dan disamping itu sesuai dengan pendapat Keynes, teori Harrod-Domar menganggap pula bahwa pertambahan dalam kesanggupan memproduksi ini tidak secara sendirinya akan menciptakan pertambahan produksi dan kenaikan pendapatan nasional. Harrod dan Domar sependapat dengan Keynes bahwa pertambahan produksi dan pendapatan nasional bukan ditentukan oleh pertambahan dalam kapasitas memproduksi masyarakat, tetapi oleh kenaikan pengeluaran masyarakat. Dengan demikian walaupun kapasitas memproduksi bertambah, pendapatan nasional baru akan bertambah – dan pertumbuhan ekonomi tercipta – apabila pengeluaran masyarakat mengalami kenaikan kalau dibandingkan dengan pada masa sebelumnya bertitik tolak dari pandangan ini, analisa Harrod-Domar bertujuan untuk menunjukkan syarat yang diperlukan supaya dalam jangka panjang kemampuan memproduksi yang bertambah dari masa-kemasa ( Yang diakibatkan oleh pembentukan modal pada masa sebelumnya) akan selalu sepenuhnya digunakan.
Teori Harrod-Domar menggunakan beberapa pemisalan berikut : (1). Pada taraf permulaan perekonomian telah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh dan alat-alat modal yang tersedia dalam masyarakat sepenuhnya digunakan , (2). Perekonomian tersebut terdiri dari dua sektor yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan, berarti pemerintah dan perdagangan luar negeri tidak terdapat (3). Besarnya tabungan masyarakat adalah proporsionil dengan besarnya pendapatan nasional, dan keadaan ini berarti bahwa fungsi tabungan dimulai dari titk 0. (4). Kecondongan menabung batas besarnya tetap dan begitu juga perbandingan di antara modal dengan jumlah produksi – yang lebih lazim disebut “rasio modal produksi(capitaloutput ratio)- dan perbandingan di antara pertambahan modal dengan jumlah pertambahan produksi – yang lazim disebut sebagai rasio pertumbuhan modal produksi (incremental capital output ratio) besarnya tidak berubah.
Setelah mengemukakan berbagai pemisalan diatas, maka tibalah masanya untuk membahasa inti dari pada teori tersebut. Penanaman modal yang dilakukan masyarakat dalam suatu waktu tertentu diigunakan untuk dua tujuan, untuk mengganti alat-alat modal yang tidak dapat digunakan lagi dan untuk memperbesar jumlah alat-alt modal yang tersedia dalam masyarakat. Oleh sebab itu dalam memperbandingkan jumlah pertambahan produksi dengan penanaman modal yang dilakukan, akan diperoleh dua macam nilai. Nilai yang pertama adalah perbandingan di antara seluruh tambahan produksi yang diciptakan dalam satu tahun tertentu yang diciptakan oleh seluruh penanaman modal, dengan jumlah modal yang ditanamkan tersebut. Maka apabila dalam satu tahun tertentu penanaman modal bernilai Rp.1 milyar akan menghasilkan produksi sebesar Rp.300 juta setiap tahun, maka perbandingan di antara jumlah produksi bertambah dan jumlah modal  yang ditanam adalah sebesar: Rp.300juta/Rp. 1 milyar = 0,3. Tetapi apabila dimisalkan pada waktu sebelumnya alat-alat modal yang baru sepenuhnya digunakan, maka perekonomian tersebut tidak akan dapat mencapai pertambahan produksi sebesar Rp. 300 juta, karena sebagian alat-alat modal yang lama tidak akan menghasilkan barang-barang lagi.
Misalkan, sebagai akibat dari penyusutan alat-alat modal yang lama, alat-alat modal yang tersisa (alat-alat modal lama yang belum disusutkan) hanya sanggup menghasilkan sebanyak Rp.50 Juta lebih rendah dari pada kalau dianggap tidak terdapat penyusutan. Maka dengan adanya penanaman modal besar Rp.1 milyar, yang sanggup menghasilkan produksi Rp.300 juta, perekonomian tersebut maksimal hanya dapat menaikkan produksi sebanyak rp.250 Juta. Dengan demikian nilai kedua dari perbandingan diantara jumlah pertambahan prodksi dengan penanaman modal yang dilakukan, yang dapat disebutkan sebagai α, adalah Rp.250 juta/1 milyar = 0,25. Nilai α, yang disebutkan sebagai rasio produksi modal, dan merupakan kebalikan dari rasio modal produksi(capital output ratio), adalah nilai yang lebih dipentingkan dalam analisa Harrod-Domar. Nilai tersebut menunjukkan pertambahan efektif kapasitas memproduksi sesuatu negara  yang ditimbulkan oleh penanaman modal baru yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pertambahan kapasitas alat-alat modal yang efektif (yaitu setelah dikurangi  oleh penyusutan).

J.       PEMBENTUKAN MODAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Kebijaksanaan Pembentukan modal yang dilaksanakan oleh Negara Negara berkembang untuk melepaskan diri mereka dari keadaan tidak berkembang dan untuk menciptakan pembangunan yang lebih laju. Berbagai analisis tersebut bolehlah diapandang sebagai suatu kebijaksanaan pembentukan modal dengan melihat persoalannya dari segi pemilihan sektor-sektor yang harus ditekankan dan perkaitan yang perlu diciptakan di antara berbagai proyek, untuk menjamin terciptanya pembangunan yang lancar.
Dalam masalah ini persoalan pokok yang harus dipecahkan adalah proyek-proyek yang mana yang harus dilaksanakan agar sumber sumber daya yang tersedia dapat diciptakan hasil yang paling optimal dalam mencapai  tujuan pembangunan. Hampir semua ahli Ekonomi menekankan arti penting pembentukan modal (Capital Formation) sebagai penentu utama pertumbuhan ekonomi. Menurut Nurkse arti pembentukan modal adalah masyarakat tidak mempergunakan seluruh aktifitas produksinya saat ini, untuk kebutuhan dan keinginan konsumsi, tetapi menggunaan sebagaian saja untuk pembuatan barang modal; perkakas dan alat, mesin dan fasilitas angkutan, pabrik dan perlengkapannya dan segala macam bentuk modal nyata yang dapat dengan cepat meningkatkan manfaat upaya produktif. Inti proses itu adalah pengalihan sebagian sumber daya yang sekarang ada pada masyarakat  dengan tujuan meningkatkan persediaan barang modal begitu rupa sehingga memungkinkan perluasan output yang dapat dikonsumsi pada masa depan.
Dari uraian Nurkse tersebut, hanya menyangkut pemupukan modal material dan mengabaikan modal manusia(SDM), Setiap definisi yang tepat harus menyangkut keduanya, menurut Singer, pembentukan modal terdiri dari barang yang nampak seperti Pabrik, alat-alat dan mesin, maupun barang yang tidak Nampak seperti pendidikan yang bermutu tinggi, kesehatan,  tradisi, ilmiah dan penelitian. Pendapat yang sama juga oleh Simon Kuznet dalam ungkapan berikut “ Pembentukan modal domestik tidak hanya menyangkut biaya untuk kontruksi, peralatan dan persediaan dalam negeri, tetapi juga peralatan lain kecuali pengeluaran yang dibutuhkan untuk mempertahankan output pada tingkat yang ada. Ia juga mencakup pembiayaan untuk pendidikan, rekreasi dan barang mewah yang memberikan kesejahteraan dan produktifitas lebih pada individu dan semua pengeluaran masyarakat yang  berfungsi untuk meningkatkan moral penduduk yang bekerja” Jadi istilah pembentukan Modal(Capital) meliputi material dan modak manusia(SDM).
Pentingnya Pembentukan Modal
Pembentukan atau pengumpulan modal dipandang sebagai salah satu faktor utama dalam pembangunan ekonomi, Menurut Nurkse, lingkarang setan kemiskinan di Negara berkembang dapat digunting melalui pembentukan modal, sebagai akibat dari rendahnya pendapatan Negara-negara berkembang maka permintaan, produksi dan investasi menjadi rendah atau kurang. Hal ini disebabkan kurangnya barang modal dan dapat diatasi dengan pembentukan modal. Lewat itu persediaan mesin, alat-alat dan perlengkapan meningkat, skala produksi meluas sehingga overheat ekonomi dan sosial tercipta. Pembentukan modal membawa pada pemanfaatan penuh sumber-sumber yang ada sehingga dapat menaikkan besarnya output nasional, pendapatan dan pekerjaan, menekan angka inflasi dan defisit neraca pembayaran, serta membuat perekonomian bebas dari beban utang luar negeri.
Tujuan pokok pembangunan ekonomi  adalah untuk membangun peralatan modal dalam skala yang cukup untuk meningkatkan produktifitas di bidang pertanian, pertambangan, perkebunan, industri dan bidang lainnya, modal juga diperlukan untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, jalan raya dan kereta api serta juga infrastruktur lain. Singkatnya pembangunan ekonomi adalah penciptaan modal overhead social dan ekonomi. Hal  ini hanya mungkin jika laju pembentukan modal di dalam negeri cukup cepat yaitu bagian pendapatan atau output yang ada di masyarakat hanya sedikit saja yang digunakan untuk konsumsi dan sisanya ditabung dan diinvestasikan dalam peralatan modal. Sebagaimana ditunjukkan oleh Lewis, masalah pokok dalam teori pembangunan ekonomi adalah proses peningkatan tabungan dan investasi nasional. Investasi dalam peralatan modal tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga kesempatan kerja, pembentukan modal menghasilkan kemajuan teknik yang menunjang tercapainya ekonomi produksi skala luas dan meningkatkan spesialisasi. Pembentukan modal  memberikan mesin, alat dan perlengkapan bagi tenaga kerja yang semakin meningkat. Intinya pembentukan modal memberikan pengaruh yang positif bagi kesempatan kerja.
Pembentukan modal, menciptakan perluasan pasar. Dalam upaya membantu menyingkirkan ketidak sempurnaan pasar, melalui penciptaan modal overhead social dan ekonomi memotong lingkaran setan kemiskinan baik dari sisi penawaran maupun permintaan, lebih jauh pembentukan modal membuat pembangunan menjadi mungkin terkendali jumlah penduduk terus meningkat dengan pesat. Di Negara berkembang yang berpenduduk tinggi seperti di Indonesia mempunyai keterkaitan antara kenaikan output perkapita dengan rasio modal tenaga kerja. Tetapi di Negara-negara yang bermaksud meningkatkan rasio modal – buruh terpaksa menghadapi dua masalah :
1.    Rasio modal-buruh jatuh akibat naiknya penduduk sehingga diperlukan investasi netto yang besar untuk mengatasi kemerosotan rasio tersebut.
2.    Pada waktu penduduk meningkat dengan pesat, menjadi sulit untuk mendapatkan tabungan yang cukup untuk memperoleh sejumlah tingkat investasi yang diperlukan karena disebabkan rendahnya pendapatan perkapita yang membuat kecendrungan marginal menabung tetap rendah sehingga satu-satunya jalan dengan mempertinggi laju pembentukan modal.

Pembentukan modal mengatasi masalah neraca pembayaran. Negara berkembang juga dihadapkan pada masalah neraca pembayaran, sebab kebanyakan Negara tersebut mengeksport barang primer( seperti bahan mentah dan hasil pertanian) dan mengimport hampir semua barang manufaktur dan barang modal. Pembentukan modal domestik merupakan salah satu pemecahan pokok kesulitan neraca pembayaran ini. Dengan mendirikan industri pengganti import, impor atas barang-barang tersebut dapat dikurangi, pada pihak lain dengan meningkatnya produksi segala macam barang konsumsi dan barang modal, maka komposisi eksport menjadi berubah. Bersama-sama dengan hasil pertanian dan bahan mentah industri, eksport barang manufaktur juga berubah. Jadi pembentukan modal membantu ,memecahkan neraca pembayaran.
Pembentukan modal, dapat menyelesaikan masalah utang luar negeri. Laju pembentukan modal yang cepat, lambat laun dapat mengurangi kebutuhan akan modal Asing karena pembentukan modal pada kenyataannya membantu tercapainya swasembada suatu Negara dan mengurangi beban utang luar negeri. Jika suatu Negara meminjam dari Negara lain untuk jangka panjang, utang tersebut merupakan beban yang berat bagi generasi mendatang. Pada setiap pinjaman, beban utang dari hari ke hari semakin membesar dan hanya bisa dibayar kembali dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi. Beban pajak meningkat dan uang mengalir keluar dalam bentuk pembayaran utang. Dan hanya dengan pembentukan modal suatu Negara dapat terlepas dari masalah utang luar negeri.


  Doa Penutup Majelis Ilmu(Kuliah)

سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنِتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

SUBHANAKALLAHUMMA WA-BHIHAMDIKA, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA-ATUUBU ILAIK
[Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu], melainkan diampuni baginya dosa yang terjadi di majlis itu."(HR. at-Tirmidzi) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar